RADAR JOGJA – DIJ kembali mencatat zero case atau tak ada penambahan kasus positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Berdasarkan hasil uji swab di tiga laboratorium penguji, seluruh sampel negatif dari Covid-19. Sehingga akumulasi kasus di Jogjakarta mencapai 306 kasus.

Ketiga laboratorium penguji di antaranya Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) DIJ, RSUP Sardjito dan laboratorium milik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM. Total specimen diperiksa mencapai 127 sampel milik 85 orang.

“Untuk sampel di FKMK UGM itu sebagian hasil pemeriksaan Sabtu (27/6) yang PCR mandiri. Sehingga jumlah kasus positif Covid-19 di Jogjakarta tetap 306 kasus,” jelas Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ Berty Murtiningsih, Senin (29/6).

Gugus Tugas Covid-19 DIJ juga melaporkan adanya satu pasien sembuh. Tercatat sebagai kasus 280. Sosok ini adalah pasien perempuan berusia 51 tahun. Pasien asal Sleman ini rawat inap isolasi sejak 20 Juni.

“Laporan kasus sembuh ada satu kasus yang dinyatakan sembuh. Sehingga jumlah kasus sembuh sebanyak 261 kasus. Kalau yang rawat isolasi masih 37 pasien,” katanya.

Ketua Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji memastikan kapasitas kelima laboratorium penguji sampel sangat memadai. Kendala utamanya justru pada ketersediaan sumber daya manusia, sehingga kuantitas uji swab belum bisa maksimal. 

Jajarannya telah memberikan pelatihan kepada ratusan tenaga medis. Berlangsung secara online, pelatihan sudah memasuki angkatan kedua. Perannya untuk melakukan uji swab dari setiap specimen yang diterima. Harapannya dapat meningkatkan jumlah sampel uji harian.

“Persoalan reagen dan kapasitas laboratorium tidak masalah. Kendalanya adalah SDM. Tapi sudah ada pelatihan online dan sudah mulai uji coba di masing-masing puskesmas lalu laboratorium kesehatan daerah,” ujarnya.

Intensitas uji swab massal juga terus dilakukan. Tujuannya agar dapat memetakan persebaran Covid-19 secara valid. Metode pelaksanaan uji swab dilakukan bersamaan dengan uji rapid diagnostic test (RDT).

“Swab massal sudah, tapi target itu dilihat dari kemampuan. Laboratorium lima dan kapasitasnya sudah cukup. Tapi kalau petugasnya kurang juga tak efektif,” katanya. (dwi/tif)