RADAR JOGJA – Kandang Menjangan. Ini menjadi sebutan lain dari Panggung Krapyak, salah satu sumbu imajiner Jogjakarta. Bangunan berpagar besi dan bercata putih bak rumah tahanan itu berdiri kokoh di antara Padukuhan Krapyak Kulon dan Padukuhan Krapyak Wetan, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul. Bangunan ini diyakini memiliki filosofi kehidupan.

Wahyudi Anggoro Hadi Lurah Panggungharjo ( MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA )

“Segaris dengan Laut Selatan, Keraton, Tugu Pal Putih dan Gunung Merapi,” ungkap Lurah Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi kepada Radar Jogja, Sabtu (27/6). Konon, garis imajiner itu dimaknai perjalanan hidup manusia. Dari mulai kelahiran hingga kematian.

Berdasarkan cerita para pendahulu yang dia dengar, pada masa Kerajaan Mataram di sekitar lokasi bangunan itu digunakan sebagai tempat berburu. Tempat di mana Pangeran Seda Krapyak membidik dan memanah kijang atau menjangan buruannya.  “Pangeran berdiri di atas panggung, lalu abdi dalemnya mengarahkan atau menggiring kijang mendekati panggung,” bebernya.

Istilah Krapyak menjadi populer, konon diambil dari kebiasaan abdi dalem keraton dan warga sekitar yang sering membantu pangeran menggiring hewan agar mendekat panggung. Begitu panah menancap, hewan langsung diletakkan di bawah panggung. “Sebutan itu pun dijadikan nama padukuhan sekitarnya,” terang Wahyudi.

Konon, Panggung Krapyak memiliki makna kelahiran. Ikonik, bangunan itu disimbolkan lingga yoni yang diartikan dengan rahim. Lalu sejalur ke utara, dulunya terdapat pohon asem disebut juga dengan sinom. Yakni penggambaran anak muda. Semakin ke utara ada keraton dan terakhir Tugu. Menyimbolkan puncak kehidupan. “Itu yang saya ketahui,” ucapnya.

Karena filosofi itulah Pemprov DIJ menjadikan Panggung Krapyak sebagai salah satu cagar budaya. Agar semakin terpelihara dan terawat. Beberapa tahun lalu, lokasi ini menjadi panggung hiburan pertunjukan Jogja Video Mapping Project (JVMP) dan dijadikan area project video mapping pada Festival Kesenian Yogjakarta (FKY).

Tak banyak memori tentang bangunan tersebut. Yang dia ingat, sewaktu kecil dia pernah bermain di Kandang Menjangan itu. Bersepeda dengan kawannya ke lokasi itu. “Rumah saya kan agak jauh ya, jadi tidak banyak cerita tentang lokasi itu,”  tandas Wahyudi. (mel/laz)