RADAR JOGJA – Jogjakarta memiliki banyak bangunan ikonik dan bersejarah. Salah satunya Panggung Krapyak. Bangunan ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I.

Acmad Charris Zubair ( Istimewa )

Panggung Krapyak dulunya digunakan para raja dan keluarganya apabila berkunjung di tempat berburu binatang. Pada saat itu lokasi di sekitar Panggung Krapyak memang masih berupa hutan lebat. Hal itu diungkapkan oleh budayawan Achmad Charris Zubair. “Iya, secara fungsional memang jadi tempat mengintai binatang,” kata Charris.

Kendati demikian, bukan hal itu yang membuat Charris tertarik. Melainkan secara simbolik Panggung Krapyak merupakan salah satu bangunan yang menjadi sumbu filisofis Kota Jogja. “Secara simbolik itu sebagai titik awal apa yang dikenal sebaai sumbu filosifis kota, yang menggambarkan sebagai awal mula proses kehidupan manusia,” jelasnya.

Panggung Krapyak terletak di sebelah selatan Kota Jogja (belakang Keraton). Jika ditarik garis dari Tugu Pal Putih, di sebelah utara ke selatan melalui Keraton merupakan suatu garis lurus dengan bangunan Panggung Krapyak. Dengan demikian, bangunan panggung ini juga merupakan bagian dari poros imajiner atau sumbu filosofis Jogjakarta.

Charris begitu mengagumi bagaimana nenek moyang membangun Kota Jogja. Menurut Charris, para pendahulu tersebut mampu membangun kota bukan hanya dari segi fisik saja, melainkan juga dari sisi spiritual. Salah satunya dengan keberadaan sumbu filosofis tersebut. “Jogja tumbuh menjadi kota yang tidak hanya kaya dengan budaya fisik, tetapi budaya tidak kasat mata berupa value,” jelas Charris.

Bangunan ini memiliki pintu di semua sisi bangunannya dan berbentuk simetris tampak dari keempat sisinya. Pembagian ruangan hanya dipisahkan oleh koridor. Sementara lantai dari Panggung Krapyak terdiri atas dua bagian yang dihubungkan dengan tangga dari kayu. Bangunan dibuat dari tembok dan terdapat dinding penyekat di bagian dalam.

Panggung Krapyak ditetapkan sebagai cagar budaya dengan Per.Men Budpar RI No. PM.89/PW.007/MKP/2011. Selain itu, bangunan tersebut juga mengalami perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Panggung Krapyak menjadi salah satu spot di Kota Jogja yang menarik perhatian wisatawan.

Kendati demikian, Charris menyarankan agar bukan hanya dari sisi fisik saja dari Panggung Krapyak yang diperbaiki. Melainkan ada penambahan berupa naras-narasi yang bisa menjelaskan mengenai sejarah dan nilai-nilai yang terkandung pada bangunan itu. “Agar tidak hanya sekadar jadi tontonan saja,” tandasnya. (kur/laz)