Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan menyimpan banyak cerita dan misteri. Bangunan bersejarah berbentuk ruangan menyerupai kubus itu dulunya berwana hitam, kotor dan banyak lumut. Singup. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang menyebutnya angker.

WINDA ATIKA IRA P, JOGJA, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Panggung Krapyak dulu tak sebagus saat ini. Bersih dan terlihat artistik dengan sorotan lampu taman. Bangunan cagar budaya yang menjadi salah satu sumbu filosofi ini dulu kurang terawat, kumuh, dan angker.

“Kalau angker iya, betul-betul angker,” kata Pujo Suwasono, warga Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon, Bantul saat ditemui Radar Jogja di rumahnya, Sabto (27/6).

MENGALAMI SENDIRI: Pujo Suwasono mengaku pernah diganggu saat lewat malam hari di sekitar Panggung Krapyak sekitar tahun 1990. Ia berputar sampai tiga kali hingga akhirnya bisa “keluar”  menuju rumahnya. ( Winda Atika Ira P/Radar Jogja )

Abdi dalem Keraton Jogja 1970-2020 ini menceritakan pengalaman keangkeran atas bangunan itu. Salah satunya pernah mengalami saat melintas di bundaran bangunan itu, mobil yang dikendarai secara sadar terus berputar selama tiga kali tanpa berhenti. Itu terjadi sekitar tahun 1990 saat pulang dari bekerja malam hari. “Saya sadar saya berputar kok mau lihat jalan ke arah utara nggak kelihatan. Terus saya berhenti, jalan lagi akhirnya nembus sampai jalan ke utara,” ujarnya.

Tidak hanya itu, dia melihat orang tua yang dikenalinya tinggal di sekitar Panggung Krapyak seperti berjalan membungkuk menggendong seseorang pada tahun 1960-an. Saat itu masih terdapat pohon randu alas. Suatu ketika ingin menebang pohon itu, tapi tidak kunjung berhasil ditebang karena tidak bisa. “Akhirnya katanya yang menunggu di situ dipindahkan dulu oleh orang tua tadi ke Kandang Menjangan,” cerita laki-laki 70 tahun ini.

Selain itu, kakek lima cucu itu juga menyebut ada cerita aneh yang terjadi sekitar tahun 1947, masa agresi Belanda II. Pada waktu itu, rakyat bersembunyi di dalam bangunan itu karena ada kejaran tentara Belanda. Dengan alasan aman dari tembakan jika bersembunyi di Panggung Krapyak. “Konon di situ aman tidak tertembak. Ditembak dari luar oleh Belanda senapan tidak berbunyi. Sementara rakyat yang di dalam bisa menembak keluar,” katanya.

Cucunya yang saat ini kelas 1 SD belum lama juga mengalami kejadian aneh ketika melintas di Panggung Krapyak. Saat masih di TK yang tak jauh dari lokasi Kandang Menjangan, selalu melambaikan tangan layaknya ada seseorang menatapnya. “Cucu saya tiap mau berangkat sekolah TK, sampai di situ mesti dada dulu. Anak itu melihat ada orang tua duduk, terus saya tanya bilangnya di situ ada kakek-kakek,” ceritanya, menirukan kata cucunya.

Selain pengalaman keangkeran, baginya Panggung Krapyak sebagai tempat sering bermain saat usia masih kecil atau tingkat sekolah rakyat (SR) pada 1960-an.

Tidak dipungkiri keangkeran itu muncul karena sebelum bangunan yang masih asli tanpa perubahan itu kurang terawat. Menurutnya, sebelum diperbaiki terlihat mengerikan, karena tidak ada penerangan. Terlebih bangunan berlumut tanpa cat. “Dulu nggak ada pintu besi, sekarang ada mungkin untuk pengamanan dan keindahan saja,”  teranganya.

Bangunan itu semakin berdiri megah dan kokoh. Panggung Krapyak pun dicat putih serta ditambah pintu-pintu besi. Terdapat lampu penerangan dan lampu taman yang semakin membuat keindahan akan bangunan cagar budaya itu. “Kalau dulu ada perasaan takut lewat sana. Sekarang tidak merasa takut lagi, justru makin ramai,” tambahnya. (laz)