RADAR JOGJA – Panggung Krapyak berada di Padukuhan Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul.  Bangunan  ini dulu dikenal sebagai tempat pengintaian (nginceng) binatang saat raja-raja Kasultanan Jogjakarta berburu. Beragam jenis hewan liar terdapat di sini, antara lain, rusa atau dalam bahasa Jawa disebut menjangan. Masyarakat sekitar pun menyebutnya sebagai Kandang Menjangan.

Prabu Hanyokrowati (Raden Mas Jolang), raja kedua Kerajaan Mataram Islam dan putra Panembahan Senopati adalah salah satu raja yang menjadikan Hutan Krapyak sebagai lokasi berburu. Pada tahun 1613, beliau mengalami kecelakaan dalam perburuan dan meninggal dunia. Prabu Hanyokrowati dimakamkan di Kotagede dan diberi gelar Panembahan Seda Krapyak atau raja yang meninggal di Hutan Krapyak.

Raja lain yang gemar berburu di Hutan Krapyak adalah Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I). Sultan ini yang kemudian membangun Panggung Krapyak secara permanen dan megah seperti terlihat sampai saat ini, setelah lebih dari 140 tahun wafatnya Prabu Hanyokrowati di hutan ini. Menurut cerita, Sultan HB II dan Sultan HB III juga masih senang berburu di Hutan Krapyak.

Panggung Krapyak sendiri berbentuk persegi empat seluas 17,6 meter x 15 meter. Dindingnya terbuat dari bata merah yang dilapisi semen cor dan disusun ke atas setinggi 10 meter. Bangunannya tampak kokoh, meski beberapa bagian sempat mengalami kerusakan akibat gempa dahsyat yang melanda Jateng-DIJ, 27 Mei 2006 lalu.

Hasanudin (warga Krapyak) ( ANA R DEWI/RADAR JOGJA )

Warga Krapyak Hasanudin menceritakan, wilayah Krapyak adalah hutan lebat yang ditumbuhi beragam pohon seperti beringin, randu, dan bambu. Selain itu digunakan sebagai tempat berburu oleh raja-raja Mataram. “Dari cerita yang saya tahu, dulu kerabat raja kalau memantau hewan buruan, ya dari atas panggung itu,” ujarnya saat ditemui Radar Jogja.

Salah satu hewan buruan adalah menjangan, sehingga Panggung Krapyak biasa dikenal dengan nama Kandang Menjangan. Dikatakan, di seputaran radius 25 meter Panggung dikelilingi kolam. “Orang bilang itu kandang menjangan. Tapi hanya sebutan saja sih,” ujarnya.

Sebetulnya, nama panggung itu adalah Gedong Panggung. Dinamakan Panggung Krapyak karena letaknya persis di tengah-tengah Kampung Krapyak. Lebih lanjut pria 60 tahun itu menceritakan, dulu bangunan Panggung Krapyak sempat tidak terawat. Bahkan terlihat singup dan angker.

Beberapa kali kejadian mistis pun dialami warga. “Sering membingungkan orang itu pas tahun 1976-an lah. Misal tukang bakso keliling di-blasukke, jadi muter-muter sampai pagi,” katanya, lalu tertawa.

Namun, sekitar tahun 2000-an Panggung Krapyak mulai mengalami perubahan dan cukup terawat. Tepatnya pasca gempa 27 Mei 2006. Bangunan itu direhab. Diberi penerangan dan dicat berwarna putih. “Dari dinding yang dikelotok dan diperbaharui. Pola perbaharuan lepo itu seperti yang dulu bahannya, dari batu bata merah,” paparnya.

Kini Panggung Krapyak sudah bagus dan bersih. Kesan horor sudah tak nampak pada bangunan berlantai dua itu. Pada malam hari terlihat artistik dengan sorotan lampu mercuri. Sekeliling bangunan juga dipasang rambu-rambu. Tujuannya agar pengendara menjaga jarak saat melewati panggung.

Arsitektur bangunan panggung memiliki ciri khas yang unik. Berbentuk persegi serta sisi bangunan memiliki sebuah pintu dan dua buah jendela. Dulu pintu dan jendela tersebut hanya berupa sebuah lubang, tanpa penutup. Hanya saat ini sudah diberi penutup berupa teralis besi. “Kan takutnya kalau terlalu terbuka, ada aksi vandalisme coret tembok. Makanya pintu hanya tambahan saat ini. Aslinya nggak ada,” beber Hasanudin.

Bagi Hasanudin, Panggung Krapyak sudah hidup berdampingan dengan warga sekitar. Seperti bangunan rumah, namun tak berpenghuni. “Pas weekend atau liburan, banyak anak muda pada selfie. Kalau warga sini memperingati hari kemerdekaan, kadang dibuat panggung untuk background-nya,” tambahnya.

KRT Jatiningrat (Romo Tirun) ( YUWANTORO WINDUAJIE/RADAR JOGJA )

Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Jogjakarta KRT Jatiningrat (Romo Tirun Marwito) mengungkapkan, Panggung Krapyak dikenal sebagai tempat perburuan raja-raja sejak zaman Sultan Agung Kerajaan Mataram. Dalam perkembangannya, situs ini terus mengalami perubahan. Di mana pada kepemimpinan Sultan HBI, Panggung Krapyak dijadikan simbol dalam implementasi panggung kehidupan.

Diakui, kawasan Krapyak dulunya adalah hutan yang lebat. Banyak hewan liar berlalu lalang di sana. Sehingga, kegiatan perburuan kerap digelar di kawasan ini. “Perburuan sifatnya di samping melatih ketabahan, kesatriaan, dan olahraga. Di zaman Sultan Agung itu sudah ada (Panggung Krapyak),” katanya.

Tempat untuk mengincar binatang buruan itu kemudian diperbaiki saat kepemimpinan Sultan HB I. Panggung Krapyak juga dijadikan sebagai salah satu bagian dalam sumbu filosofi. Membentang dari Panggung Krapyak, Keraton, hingga Tugu Pal Putih. “Dari Krapyak ke Keraton itu sangkan, kalau Tugu ke Keraton disebut parang. Menggambarkan sangkan paraning dumadi manunggaling kawulagusti,” urainya.

Ini merupakan ajaran Sultan HB I dalam memaknai kehidupan. HB I ingin mengajarkan masyarakat, kawula, keluarga, dan prajuritnya bahwa manusia perlu mengetahui asal-usul keberadaannya sejak terlahir di dunia ini. “Asal usul keberadaan inilah yang menjadi pokok ajaran yang menurut HB I merupakan hakikat daripada hidup ini,” tandasnya.

Dia melanjutkan, di Keraton terdapat Kanjeng Kyai Wiji yang berbentuk lampu berbahan bakar minyak kelapa. “Semua orang baik lahir maupun mati selalu akan mencari lampu atau pepati. Jadi bayi lahir sebenarnya juga mencari, orang mati mau ke mana juga mencari,”  tambah mantan Sekda Sleman ini.

Makna ini merupakan terjemahan dari kalimat dalam kitab Alquran berbunyi Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. HB I mensosialisasikan ajaran agama itu menggunakan simbol-simbol. “Mengingatkan ajaran bahwa manusia di dunia itu harus mengerti sangkan paraning, maka kembalinya mau ke mana, ya ke Allah,” jelas Romo Tirun. (ard/tor/laz)

( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA )