RADAR JOGJA – Angka kasus demam berdarah (DBD) di Jogjakarta terus melonjak. Tercatat saat ini ada 2.714 kasus. Dari total kasus tersebut, lima pasien telah meninggal dunia. Data ini merupakan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ periode Januari hingga Mei.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIJ Berty Murtiningsih menuturkan data masih terus berjalan. Detil per wilayah, Kota Jogja terdapat 235 kasus, Kabupaten Sleman 586 kasus, Kabupaten Bantul 859 kasus, Kabupaten Gunungkidul 857 kasus dan Kabupaten Kulon Progo 177 kasus. 

“Lalu yang meninggal ada 5 pasien. Terdiri dari 4 warga Kabupaten Gunungkidul dan 1 warga Kabupaten Sleman. Sedangkan untuk 3 Kabupaten Kota lainnya belum ada korban meninggal karena DBD,” jelasnya, Sabtu (27/6).

Berty turut menyebutkan data tahun sebelumnya sebagai pembanding. Pada Januari hingga Mei tercatat di Kota Jogja tercatat 96 kasus, Kabupaten Sleman 188 kasus, Kabupaten Bantul 236 kasus, Kabupaten Gunungkidul 60 kasus dan Kabupaten Kulon Progo 26 kasus.

Pada periode yang sama, jumlah pasien meninggal dunia mencapai  2 orang. Masing-masing berasal dari Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman. Dari data tersebut terlihat ada lonjakan signifikan di 2020.

“Akumulasi periode yang sama di 2019 ada 536 kasus dengan 2 orang diantaranya meninggal dunia. Mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sekarang sudah 2714, jadi lonjakan sekitar 4 kali lipat,” katanya.

Dia menduga kenaikan kasus akibat pergantian musim ke musim kemarau. Selain itu juga munculnya banyak genangan air di sekitar lingkungan rumah warga. Alhasil populasi nyamuk aedes aegypti menjadi tinggi.

Berkaca dari hal tersebut, pihaknya tengah berupaya meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat. Khususnya terkait Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD. Dia mendorong agar lintas instansi, khususnya di lingkungan turut aktif mengkampanyekan PSN.

Penyuluhan akan dilakukan lebih intens ke lingkungan masyarakat. Tujuannya agar ada keterlibatan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sehingga angka kasus DBD bisa ditekan.

“Kami juga menyiapkan pelayanan kesehatan, terutama di Puskesmas untuk lebih waspada pada kasus DBD. Selain itu juga mendorong para pimpinan dan tokoh masyarakat agar selalu memberikan motivasi dan dukungan pelaksanaan PSN,” ujarnya. (dwi/tif)