RADAR JOGJA – Perpanjangan status tanggap darurat diimbangi  dengan sejumlah tindakan medis. Salah satunya adalah pemeriksaan massal menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) atau uji swab secara massal. Langkah ini dilakukan untuk memetakan penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di DIJ.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana menyatakan uji swab massal dipakai untuk persiapan berbagai sektor menuju masa kenormalan baru. Tindakan medis ini akan diinsiasi oleh masing-masing pemerintah kabupaten dan kota. Sasarannya adalah pusat keramaian dan fasilitas publik. 

“Keseimbangan antara membuka aktivitas, peningkatan disiplin dengan penanganan kasus. Sehingga memang perlu ada pemeriksaan swab maupun rapid test lebih masif,” jelasnya, Sabtu (27/6).

Pemerintah kabupaten maupun kota telah sepakat akan metode ini. Bahkan beberapa wilayah seperti Pemkab Sleman, Pemkab Bantul dan Pemkot Jogja telah mengawali. Mulai dari pasar hingga sasaran yang lebih umun. Pemkab Bantul sempat membuka pendaftaran bagi warga yang tertarik uji swab seacara acak.

Wakil Sekretariat Gugus Tugas Covid DIJ ini menuturkan uji swab berfungsi sebagai pemetaan. Guna melihat angka kasus dan kondisi sesungguhnya di lapangan. Sehingga, bisa ditindaklanjuti dengan upaya lebih cermat, tepat, dan intensif.

“Untuk sasaran uji swab, nanti wilayah yang lebih paham detailnya. Intinya di tanggap darurat (periode) ketiga ini pemeriksaan massal swab,” katanya.

Terkait perpanjangan status tanggap darurat dilakukan atas pertimbangan matang. Jogjakarta kembali menjalani tanggap darurat hingga 31 Juli. Keputusan ini didasari sederet pertimbangan, terutama kedisiplinan penerapan protokol kesehatan Covid-19.

“Lalu agar bisa mengakses anggaran belanja tak terduga (BTT) untuk menangani perkembangan kasus Covid-19 secara intensif. Termasuk dampak-dampak sosial lain yang ditimbulkan karenanya,” ujarnya. (dwi/tif)