PANDEMI Covid-19 membuat April 2020 cukup berbeda dengan sebelumnya. Di dunia pendidikan, pemerintah mencanangkan Belajar dari Rumah sebagai cara untuk menanggulangi kemacetan lalu lintas pembelajaran di sekolah ataupun perguruan tinggi.

Karena itu, metode pembelajaran daring bukan lagi penyokong, melainkan metode utama yang harus diterapkan pada siswa ataupun mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal baru dan tanpa persiapan matang ini membuat kompetensi dasar sulit dicapai oleh peserta didik. Para pemangku kebijakan hingga tenaga pendidik dibuat jatuh bangun dalam mencari jalan terbaik untuk menanggulangi hal ini.

Seperti halnya pembelajaran berbasis daring yang tetap dapat berjalan meski masih terseok-seok, peringatan Hari Kartini tentu saja juga tetap dapat dilakukan meski di rumah saja. Kita memang tidak bisa lagi berkumpul, memakai pakaian adat, membentuk barisan, lalu serempak menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini. Tetapi dalam kondisi seperti ini kita justru mendapat kesempatan untuk meresapi lirik lagu tersebut. Karena itulah, tulisan ini menjadi sebuah upaya dalam menguraikan makna-makna ungkapan pada tiap lirik yang dipakai W.R. Soepratman untuk menggambarkan sosok R.A. Kartini melalui lagu Ibu Kita Kartini.

Lagu Ibu Kita Kartini, yang awalnya berjudul R.A Kartini (makassar.tribunnews.com), diciptakan oleh W.R. Soepratman pada tahun 1929. Lagu tersebut berisi tiga bagian yang masing-masing terdiri dari tiga bait.

Lagu ini di kemudian hari menjadi lagu nasional untuk mengenang perjuangan dan kepahlawanan R.A. Kartini. Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres RI No. 108 Tahun 1964 tentang penetapan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan 21 April sebagai hari besar.

Lagu yang didedikasikan pada seorang tokoh, tentu saja berisi lirik-lirik yang menggambarkan tokoh tersebut dari sudut pandang penciptanya. Lebih dari itu, jika lagu tersebut kemudian menjadi lagu nasional. Penggambaran tokoh yang dilakukan dapat dikatakan tak lagi hanya mewakili sudut pandang pencipta, tetapi seluruh masyarakat secara nasional. Oleh karena itu, gumpalan-gumpalan bahasa yang metaforis dalam lagu Ibu Kita Kartini perlu dibelah dengan pisau semantik kognitif agar seluruh lapisan masyarakat dapat memahami dengan baik sosok tokoh di dalam lagu tersebut.

Membelah lirik Ibu Kita Kartini dengan semantik kognitif berarti tidak memandang bahasa yang digunakan sebagai sebuah fenomena retoris atau digunakan sebatas untuk keindahan/keartistikan. Tetapi sebagai hasil pengalaman fisik, perseptual, dan korelasi budaya penciptanya (Dorst, 2011: 32—32).

Dengan demikian, penggunaan semantik kognitif penting untuk diterapkan karena pencipta lagu, W.R. Soepratman, dengan tokoh dalam lagu, R.A. Kartini, dapat dikatakan berada dalam suatu masa kebahasaan yang sama. Hal ini dapat membuat penggunaan metafora dalam penggambaran tokoh tersebut benar-benar berasal dari pengalaman fisik, perseptual, dan korelasi budaya si pencipta.

Dalam semantik kognitif, bahasa adalah alat metodologis kunci untuk mengungkap organisasi dan struktur konseptual (Evans & Green, 2006:153). Di dalamnya terdapat teori metafora konseptual dan di dalam teori metafora konseptual terdapat metafora struktural, metafora ontologis, dan metafora orientasional. Hanya saja, dalam lirik lagu Ibu Kita Kartini hanya didapati penggunaan metafora ontologis sehingga dalam tulisan ini hanya dipaparkan mengenai satu jenis metafora itu. Metafora ontologis adalah metafora yang mengonsepsikan hal-hal yang abstrak, seperti pikiran, pengalaman, dan proses ke dalam sesuatu yang bersifat konkret. Metafora ontologis juga menggambarkan kejadian, aktivitas, emosi, dan ide sebagai sebuah substansi. Selain itu, metafora ini juga mengonseptualisasikan sesuatu, pengalaman, dan proses abstrak lainnya ke sesuatu yang memiliki properti fisik tertentu (Lakoff dan Johnson, 1980: 14). Dengan kata lain, dalam metafora ontologis, hal-hal yang abstrak diberi tempat dalam ranah yang lebih kongkrit. Terkait dengan itu, dalam Ferrando (1998:81) ditegaskan bahwa para semanticist cognitive menyatakan metafora adalah sarana di mana area pengalaman yang lebih abstrak dan tak berwujud dapat dikonseptualisasikan dalam kerangka kongkrit dan familier.

Ungkapan-ungkapan yang digunakan oleh W.R. Soepratman sebagai metafora dalam lirik lagu Ibu Kita Kartini antara lain putri sejati, putri Indonesia, harum namanya, pendekar bangsa, pendekar kaumnya, sungguh besar cita-citanya,  putri yang suci, putri yang merdeka, pendekar kaum ibu, penyuluh budi, dan penyuluh bangsanya.

Perjuangan R.A Kartini untuk memerdekakan kaum perempuan pribumi tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam surat-surat yang ia tulis untuk sahabat penanya di Eropa, salah satunya Estelle Zeehandelaar, ia didapati telah berusaha memperjuangkan perempuan-perempuan pribumi agar memiliki akses terbuka dalam menuntut ilmu.

Dalam surat-surat itu pula dia memaparkan ide-ide cemerlang untuk menggapai cita-cita itu. Perjuangan inilah yang membuat R.A Kartini terus dikenang bukan hanya di lingkungannya sendiri, tetapi di seluruh pelosok negeri.

Salah satu bentuk konseptualisasi metafora ontologis adalah abstract entities as a physical object (Kovecses, 2002: 39) atau dapat diterjemahkan ‘entitas abstrak sebagai objek fisik’. Artinya, entitas-entitas abstrak yang menggambarkan atau menempel pada R.A Kartini sulit dijelaskan. Sehingga harus dianggap sebagai objek fisik agar entitas yang abstrak tersebut dapat tergambar secara konkret dan mudah dipahami.

Dalam lagu ini besar digunakan untuk menjelaskan entitas abstrak, yakni cita-cita. Hal yang sama didapatkan pula pada ungkapan pendekar dan penyuluh. Kedua kata tersebut pada dasarnya digunakan dengan merujuk pada objek konkret: pendekar adalah ungkapan untuk orang yang gagah berani atau pandai bersilat dan penyuluh adalah ungkapan untuk orang yang memberi penerangan atau penunjuk jalan. Keduanya digunakan untuk menjelaskan entitas abstrak berupa bangsa, kaum, dan budi.

Melalui pengkajian sederhana ini, kita dapat mengambil sebuah simpulan bahwa di balik sederhananya lagu Ibu Kita Kartini terdapat makna yang mendalam. Sebagian ungkapan yang digunakan W.R. Soepratman bisa saja tidak populer pada masa sekarang, tetapi apabila dipahami lebih mendalam akan tergambar dengan jelas sosok R.A. Kartini sebagai putri yang istimewa serta sebagai pejuang dan penerang jalan kaum perempuan. (ila)

*Penulis merupakan pengajar di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.