RADAR JOGJA – Tren pesepeda terus meningkat di DIJ. Lonjakan mulai terlihat sejak bergulirnya wacana new normal. Ribuan orang mulai memadati kawasan jalan raya dengan sepeda kayuh. Tak hanya kawasan pedesaan tapi hingga perkotaan.

Di satu sisi meningkatnya angka pesepeda juga berimbas pada angka kecelakaan. Beberapa pekan terakhir mulai muncul angka kecelakaan dengan korban pesepeda kayuh. Baik kecelakaan tunggal maupun korban kecelakaan lalu lintas.

“Beberapa kejadian (kecelakaan lalu lintas) yang melibatkan para pesepeda ada lonjakan. Tapi terlepas dari itu, semua pengguna jalan raya, pesepeda maupun naik motor dan mobil harus tepa slira. Saling menghormati pengguna jalan raya yang lain agar tidak terjadi kecelakaan,” jelasnya, Jumat (26/6).

Beberapa catatan dikantongi oleh jajaran Polda DIJ. Terutama perilaku para pesepeda di jalan raya. Mulai dari bergerombol, memenuhi badan jalan hingga tak mengenakan masker. Aksi ini tentu tak sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19.

Kapolres Sleman medio 2016 ini memberikan solusi kepada para pesepeda. Untuk berolahraga atau sekadar menyaluran hobi tak harus di kawasan perkotaan. Jalan-jalan pedesaan, menurutnya, lebih ideal. Apalagi beberapa karakter jalan desa juga sudah beraspal.

“Sepedaan di jalan kampung itu juga sudah bagus, aspalnya sudah mulus tidak perlu mencari keramaian di perkotaan. Tetap bisa membugarma kembali badannya. Menjaga kesehatan selama masa pandemi ini,” katanya.

Tak adanya sanksi, lanjutnya, bukan berarti bisa bebas bersepeda. Perwira menengah tiga melati ini meminta masyarakat tetap disiplin. Terlebih media jalan yang digunakan adalah jalan raya yang bisa terjadi persinggungan dengan kendaraan bermotor.

“Penindakan masih kepada imbauan. Tapi kami berharap menggunakan jalan harus melihat, memperhatikan hak orang lain. Bersepeda itu supaya sehat tapi jika tak patuh aturan lalulintas dan etika di jalan juga bisa berujung kecelakaan. Jangan bergerombol memenuhi jalan, lalu perhatikan kanan kiri kalau melintas,” pesannya. (dwi/tif)