PERNYATAAN pemerintah tentang new normal kembali digencarkan. New normal adalah tatanan baru untuk menghadapi Covid-19. New normal menjadi langkah yang diambil pemerintah saat ini ditengah masih tingginya kasus corona di Indonesia. Hal ini dilakukan agar masyarakat kembali produktif dan aman dari Covid-19.

Selain itu, new normal juga bertujuan agar tatanan ekonomi negara kembali normal. Hingga saat ini, pemerintah telah membolehkan pusat perbelanjaan dan pasar tradisional kembali beroperasi dengan prosedur serta protokol kesehatan yang harus ditaati. Selain pusat perbelanjaan dan pasar tradisional, beberapa alat transportasi seperti kereta api saat ini telah menerapkan new normal dan telah menambahkan aturan baru guna mencegah penularan Covid-19.

Salah satu aturan KAI yang jarang diketahui oleh penumpang adalah larangan untuk mengobrol sesama penumpang serta menerima telepon. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah penularan Covid-19yang dapat terjadi melalui cairan yang keluar dari saluran mulut dan hidung.

Selain hal diatas, penerapan new normal dalam dunia pendidikan juga sedang direncanakan dalam waktu dekat. Penerapan new normal dalam sistem pendidikan ini sedang dipertimbangkan bagaimana pelaksanaanya, apakah  pembelajaran dilaksanakan di sekolah atau malah menuju sistem pendidikan baru.

Untuk menjawab permasalahan ini, ada orang tua yang setuju jika anaknya melaksanakan pembelajaran di sekolah secara tatap muka langsung daripada pembelajaran online. Hal ini dikarenakan kondisi geografis murid sangat mempengaruhi sinyal dan banyak yang kesusahan dalam mengakses internet akibat sinyal yang buruk.

Selain itu, tidak sedikit orang tua,murid,ataupun guru yang masih gaptek, sehingga membuat proses pembelajaran menjadi terhambat. Namun, ada juga orang tua  yang tidak setuju jika proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka disekolah. Hal ini dikarenakan mereka khawatir anaknya akan tertular Covid-19 dan menyebarkan virus ke lingkungan keluarga serta masyarakat.

Selain itu, para orang tua tidak bisa mengawasi anaknya secara langsung selama mereka berada di sekolah. Guru pun tidak bisa menjamin seluruh murid selalu berada dalam jangkauannya. Oleh kerena itu, beberapa opini dibawah ini dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan proses belajar yang efektif ditengah pandemic Covid-19 seperti sekarang ini.

Apabila sistem pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka di sekolah, ada kekhawatiran oleh berbagai pihak akibat anak-anak dianggap masih tidak begitu memahami protokol kesehatan. Pendisiplinan bagi murid akan sulit untuk dilaksanakan mengingat masih benyak murid yang belum mengerti serta tidak peduli terhadap Covid-19 ini, terutama pada jenjang SD dan SMP.

Padahal, pada jenjang ini anak-anak rentan tertular berbagai macam penyakit dan tidak mustahil Covid-19 akan cepat menular antarmurid akibat sistem imun yang masih belum kuat. Apabila hal seperti ini terjadi, maka seluruh pihak akan dirugikan dan terjadi kenaikan kasus Covid-19 secara signifikan.

Namun, jika pembelajaran tetap dilkasanakan secara online banyak sekali kendala yang dihadapi seperti yang sudah dijelaskan tadi. Hasilnya, pembelajaran tidak berjalan dengan efektif dan efisien serta materi yang disampaikan tidak dapat dicerna secara utuh oleh murid. Jika hal ini terus berlanjut, maka pendidikan di Indonesia akan tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara lain.

Dari penjelasan diatas, pilihan yang tepat adalah membuat sistem pendidikan baru yang lebih aman dan efektif bagi seluruh pihak. Misalnya, pembelajaran tetap bisa dilaksanakan di sekolah tetapi dengan aturan yang ketat. Setiap murid wajib melaksanakan protokol kesehatan seperti menggunakan masker serta membawa hand sanitizer setiap hari.

Selain itu pihak sekolah juga harus menyediakan sabun cuci tangan beserta air di luar kelas agar sebelum masuk kelas murid bisa mencuci tangan terlebih dahulu. Sebelum memulai pelajaran dipagi hari, murid  harus di cek suhu terlebih dahulu oleh guru yang akan mengajar di kelas. Setiap kelas juga wajib ditempeli protokol kesehatan agar tidak terlupakan oleh murid maupun guru.

Kemudian, sekolah dapat mengurangi jam istirahat untuk menghindari murid berkumpul dan bermain diluar. Untuk sistem duduk, sekolah dapat mengatur kursi minimal berjarak 1 meter dan murid tidak boleh duduk berdampingan. Jika terdapat keterbatasan ruangan dan kursi, satu kelas dibagi menjadi 2 kelompok agar tidak terlalu banyak murid. Sistem seperti ini dapat diterapkan pada murid SMA terlebih dahulu atau bisa juga murid tingkat akhir yang perlu pengajaran langsung dari guru.

Apabila dirasa cukup aman, sistem ini dapat diterapkan ke jenjang SMP serta SD. Peran guru disini sangat penting guna menunjang proses pembelajaran berjalan aman dan tanpa kendala. Sistem pendidikan baru juga dapat diciptakan dengan pembelajaran secara online dengan catatan fasilitas internet di seluruh desa sudah merata.

Namun, sepertinya hal ini sulit untuk dilaksanakan dalam waktu dekat akibat masih banyak daerah yang tidak mendapatkan sinyal serta butuh waktu yang lama pula untuk membimbing orang tua dan guru dapat menggunakan teknologi dengan lancar.

Dari penjelasan diatas, yang terpenting adalah keterlibatan seluruh elemen masyarakat guna menciptakan proses belajar mengajar yang aman dan efektif di tengah pandemi saat ini. (ila)

*Penulis adalah mahasiswi Pendidikan KimiaUIN Sunan Kalijaga.