MUNGKIN sebagian dari para membaca mengira bahwa judul artikel ini mengalami kesalahan penulisan, yang seharusnya ialah normal baru bukan norma baru. Namun judul di atas tidaklah salah ketik, memang begitu adanya. Norma baru muncul bersamaan dengan normal baru yang tengah kita rasakan di tengah pandemi corona virus disease 2019 (covid-19) saat ini.

Berkomunikasi menggunakan media sosial (medsos) inilah yang kemudian menjadi salah satu normal baru di tengah ancaman pandemi ini. Menjadikan medsos sebagai normal baru dalam berkomunikasi tentu tidak luput dari pelbagai tantangan, seperti persebaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech).

Tanggal 10 Juni lalu yang diperingati sebagai Hari Media Sosial sangat tepat dijadikan momentum untuk membenahi etika dan pola komunikasi dalam medsos, terutama dalam situasi pandemi ini.

Silaturahmi Virtual

Suka ataupun tidak, masyarakat saat ini sedang berada dalam kondisi yang berbeda dengan sebelumnya. Mula-mula pelbagai penyesuaian tersebut terasa begitu berat dan merepotkan, akan tetapi selang waktu berlalu hal tersebut menjadi sebuah normal baru. Fenomena normal baru ini muncul begitu saja mereformasi tatanan kehidupan dalam waktu yang sangat cepat.

Dalam konteks Indonesia yang mayoritas penduduknya beragam Islam, pandemi ini tentu akan menjadi hal yang sangat diingat. Fenomena mudik lebaran yang biasanya selalu ditunggu-tunggu oleh para perantau, dilarang dan dipantau dengan ketat oleh pemerintah.

Sebagai gantinya, pemerintah menyarankan untuk mengoptimalkan media medsos atau aplikasi pengiriman pesan (chatting) sebagai kanal silaturahmi. Memang saat ini kemajuan teknologi informasi sangat pesat, tidak hanya di kota melainkan sampai ke pelosok desa. Penggunaan aplikasi pertemuan virtual ini menjadi sangat masif dan cukup efektif.

Medsos yang dahulu digunakan sebatas untuk keperluan hiburan saat ini menjelma menjadi media komunikasi yang sangat berhasil merekatkan jarak. Melihat keberhasilan medsos yang mereformasi pola komunikasi di tengah pandemi ini melalui media pertemuan virtual tersebut, muncul juga gagasan bahwa penggunaannya bisa dilanjutkan bahkan pasca pandemi berlalu. Hal ini mempertimbangkan sejumlah asas efektivitas dan efisiensi yang ditawarkan oleh medsos.

Kendati medsos dianggap memiliki pelbagai keunggulan dan kemudahan untuk berkomunikasi di tengah pandemi, medsos ternyata juga menyisakan sejumput persoalan.

Beberapa persoalan tersebut antara lain persebaran berita bohong (hoax) yang sangat masif. Persebaran berita bohong memang bukan fenomena baru, akan tetapi persebarannya di tengah-tengah pandemi ini dampak korosinya mungkin dapat berkali-kali lipat. Adapun korosi yang dimaksud ialah krisis kepercayaan terhadap sesama anak bangsa.

Sayangnya, ada saja pihak yang dengan sengaja bermain-main menggunakan hoax tersebut di tengah-tengah tragedi ini. Motifnya pun beragam, ada yang menggunakannya untuk keperluan politik maupun untuk meraih keuntungan finansial.

Menghadapi pandemi saja sudah satu persoalan tersendiri, apalagi ditambah persoalan persebaran hoax di medsos. Selain hoax, ada pula beberapa penyalahgunaan medsos yang dianggap keluar dari norma-norma yang berlaku, antara lain: penggunaan akun palsu (fake account) pada medsos untuk keperluan penipuan, pornografi dan prostitusi daring, perjudian daring, propaganda terorisme, prank dan pelbagai kejahatan virtual lainnya. Memang di Indonesia sudah ada seperangkat aturan hukum yang menangani persoalan tersebut yaitu UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Namun, adanya peraturan tersebut perlu dibarengi dengan adanya kesadaran kolektif dari masyarakatnya.

 

Bijak Bermedia

Penggunaan medsos perlu memperhatikan norma-norma yang disepakati masyarakat sebagaimana ketika tengah berinteraksi di dunia nyata. Pengguna medsos tak berbeda dengan warga negara pada dunia nyata, tetap memiliki seperangkat aturan yang harus ditaati.

Medsos bukan lagi sekadar media hiburan seperti pada awal kemunculannya dulu. Ada hak dan kewajiban yang melekat pada setiap penggunanya. Bertindak serampangan di medsos dan menganggap bahwa tindakannya tidak berdampak pada kehidupan di dunia nyata ialah salah besar, justru medsos bisa menjadi sangat berdampak terhadap kehidupan di dunia nyata. Sudah banyak contoh pihak yang harus menelan pil pahit lantaran berbuat sembrono di medsos.

Normal baru selalu menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru, termasuk di dalamnya ialah tantangan dalam bermedsos. Bijak menggunakan medsos dan senantiasa mematuhi norma-norma virtual ialah salah satu bentuk adaptasi di tengah pandemi ini. Hari Media Sosial tahun ini yang terjadi di tengah-tengah pandemi bisa dijadikan refleksi sejauh mana publik mampu beradaptasi dengan tatanan virtual yang baru ini. Kesadaran kolektif pengguna medsos untuk mematuhi norma-norma baru ini akan menciptakan ekosistem komunikasi virtual yang sehat, terutama di tengah pandemi ini. (ila)

*Penulis merupakan Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Penulis Buku “Memperebutkan Ruang Publik Virtual”