RADAR JOGJA – Figur seniman melegenda Amri Yahya juga dimaknai pelukis abstrak di Jogja. Dengan karya-karyanya, ada hal yang bisa diambil dan dipetik. Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja Erizal As mengatakan, tidak mudah bisa menjadi seorang Amri Yahya pada zamannya.

Pelukis yang tidak hanya identik dengan abstrak ekspresionis, namun kaligrafi, bahkan hingga media batik. “Tentu yang menarik dari karyanya secara teknis dan visual adalah abstrak dan ekspresionisnya. Awal-awal itu mulai populer,” katanya kepada Radar Jogja Sabtu (20/6).

Laki-laki 41 tahun ini menyukai karya-karya Amri Yahya karena ada hal yang diambil dari penampilan visualnya. Bagaimana garis visual mencampurkan dengan dekoratif. Selain itu juga menikmati visual-visual yang ada seperti kaligrafi. “Itu juga cukup menarik. Saat ini jarang seniman yang ada nilai spiritual religiusnya karena zaman,”  ujarnya.

Erizal As (Istimewa )

Erizal yang mengenyam SMSR di Kota Padang, Sumatera Barat, 1994-1997 ini menjelaskan uniknya Amri Yahya  hadir menawarkan karya-karya seni lukis yang tidak pernah habis. Meskipun, dalam pencapaian di zamannya karya yang diciptakan tidak begitu spesifik. Karena Amri Yahya juga terlibat dalam bidang usaha.

Dikatakan, dalam konteks seni tidak ada yang salah jika harus terjun ke dunia usaha. Karyanya pun mampu menjadi produk yang dibuat secara masal. Apalagi batik segmennya tidak hanya pecinta seni murni saja sehingga melirik kesempatan itu. “Mungkin ketertarikan dengan media batik tentu perkara teknis yang bisa diaplikasikan,” jelasnya.

Menurutnya, dengan memakai media batik menjadi sebuah pilihan yang menarik untuk diaplikasikan dalam seseorang atau seniman gaya ekspresionis. Ada hal yang menarik dibuka oleh Amri Yahya yaitu menyadarkan ternyata batik tidak selalu dengan corak tradisional. “Seharusnya ini bisa dikembangkan lagi kepada seniman yang tertarik dengan batik,”  tambahnya. (wia/laz)