RADAR JOGJA – Kurator seni rupa Kuss Indarto mengungkapkan, Amri Yahya di tahun 1960-1970 adalah sosok muda yang membawa angin segar bagi pembaharuan batik. Di masa itu, batik masih dikenal dengan sesuatu yang tradisional, sudah selesai dan telah mati. Namun tidak bagi Amri, ia menganggap batik sebagai medium untuk berekspresi seni rupa dengan sebebas-bebasnya.

Terbukti, Amri Yahya mulai menelurkan karyanya. Bukan menggunakan canting dalam membuat batik, melainkan memakai kuas untuk membuat ekspresi karya yang ekspresif. “Dan itu jarang dilakukan oleh seniman lain. Bahkan yang telah puluhan tahun bergelut dengan batik,” jelas Kuss Indarto saat dihubungi Radar Jogja kemarin (20/6).

Khusus karya seni batik, tambah Kuss, karya milik Amri Yahya mencoba lari atau keluar dari pola mainstream yang dilakukan seniman tradisional dan modern waktu itu. Ia betul-betul membuat karya yang lepas dari persoalan ornamen yang masih dilakukan seniman batik. “Main tabrak aja, bikin karya yang abstrak,” tambahnya.

Sedangkan seniman lain, masih membuat karya batik modern dengan mengandalkan aspek kerumitan dan detail ornamen. Perbedaan tersebut kemungkinan dilatarbelakangi oleh Amri Yahya yang datang dari Sumatera Selatan. Sehingga ia mampu terlepas dari problem yang ada, tanpa adanya tekanan atau landasan kultural.

Menurut Kuss, salah satu karya yang menunjukkan puncak karir Amri Yahya adalah karya serialnya. Yakni karya serial Lebak, yang mana Amri Yahya banyak mengekspresikan karyanya dengan judul tersebut. Setelah terbakarnya museum milik Amri Yahya, banyak karya miliknya yang saat ini berada di tangan kolektor. Seperti karya yang ada pada media kanvas, saat ini dimiliki kolektor asal Magelang Oei Hong Djien (OHD). “Problemnya, kolektor seni tidak banyak mengoleksi karya lukis dua dimensi selain kanvas,” tuturnya.

Sedangkan untuk karya lainnya seperti pada kain, saat ini masih ada di Galeri Nasional. Tidak hanya itu, dua karya lainnya juga masih menjadi koleksi di Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Jogjakarta dalam keadaan bagus. “Karya lain pasti ada di pribadi yang lain, tapi saya tidak tahu persis siapa saja,” ungkapnya.

Sepeninggal Amri Yahya, tambah Kuss, mulai banyak seniman yang kemudian mengikuti jejaknya. Hanya saja, para seniman itu tidak lagi bisa mengikuti Amri Yahya yang hanya membuat satu karya yang eksklusif. Melainkan karya yang dihasilkan akan disalin ulang untuk melipatgandakan produk.

Pernah bersinggungan dengan Amri Yahya sebagai pembicara pada 1991 saat diskusi, Kuss Indarto menilai Amri Yahya adalah sosok yang memiliki wawasan dan jaringan pergaulan luas. Sosok dengan banyak visi ke depan tentang karya kreatif. Saat seniman mementingkan kerja tangan yang begitu kuat, Amri Yahya sudah mulai mendistribusikan ide-idenya dengan sangat produktif.

Amri juga disebut punya jejaring kerja kuat dan sebagai public figure yang mampu mengelola komunikasi dengan baik, menjadikannya sebagai model iklan pada tahun 70-an di TVRI. “Dan tidak banyak seniman mampu menjadi selebritas waktu itu,” tambah Kuss.

Berawal dari hal itu, Amri Yahya mulai memanfaatkan pekerja seni sebagai artisannya. Hal ini karena Amri menganggap pembatik juga perlu dilibatkan karena keterampilannya. Meskipun memiliki ide-ide yang tidak biasa, Amri Yahya juga pernah ditentang oleh seniman-seniman lain seusianya. Yang mana karyanya dianggap bukanlah sesuatu yang murni.

Hanya saja, Amri Yahya masih bersikukuh bahwa karyanya adalah hasil dari kreativitas ide dasar dan sketsa yang dimilikinya. “Pola Amri Yahya juga sudah banyak dilakukan seniman yang saat ini memiliki artisan,” tandas Kuss Indarto. (eno/laz)