RADAR JOGJA – Amri Yahya dikenal sebagai pelukis batik dan kaligrafi. Pada 1972, pria kelahiran Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, ini mendirikan Galeri Amri Yahya. Lokasinya berada di depan gedung Eks Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang sekarang menjadi Jogja National Museum (JNM).

Amri pernah menempuh pendidikan seni di ASRI.  Lalu berlanjut di Jurusan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni  IKIP Jogjakarta (kini UNY, Red). Bahkan dia menjadi guru besar di universitas ini. Pada Desember 2004, Amri meninggal dunia karena sakit dalam usia 65 tahun. Namanya abadikan menjadi nama jalan yakni Jalan Prof Dr Ki Amri Yahya di daerah Wirobrajan, Kota Jogja.

Djanjang Purwa Sedjati Dosen Seni Kriya Tekstil, Batik dan Fashion ISI Jogja ( ISTIMEWA )

Bagi dosen Seni Kriya Tekstil, Batik dan Fashion Fakultas Seni Kriya, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Djanjang Purwa Sedjati, Amri Yahya dikenal sebagai seniman yang berkarakter dan religius. Di setiap karyanya, Amri menghindari  menggambar makhluk hidup. Dia justru menampilkan seni yang indah melalui goresan khasnya. Juga komposisi perpaduan bidang dan warna. “Karya-karyanya cenderung abstrak dan kaligrafi,” ungkap Djanjang kepada Radar Jogja, Sabtu (20/6). Gaya goresan dan komposisi yang apik itulah mampu membius selera pasar. Bahkan karya-karya Amri menginspirasi para pembatik menciptakan gaya serupa. Ya, batik khas Amri Yahya. Begitu pembatik lain menyebutnya.

Ia menilai, karya-karya batik Amri ini di luar konvensional. Meski terkadang masih memberikan aksen tradisi, karyanya layak dikatakan kontemporer. Sebab, kaya akan teknik.  “Itulah gaya Pak Amri,” ungkap Djanjang.

Meski tak begitu akrab, Djanjang mengaku pernah satu bus dengan Amri. Tepatnya 1992 lalu. Saat dirinya menghadiri kunjungan batik di wilayah sepanjang Pantai Utara. Dari Cirebon, Indramayu lalu Madura. Saat itulah dia mengenal karakter Amri. Dibalik karyanya yang khas, ternyata memiliki jiwa yang hangat. “Saat perjalanan Pak Amri suka bikin lelucon. Mengundang tawa seisi bus,”  ungkapnya.

Djanjang pun menjadi salah satu penggemar karyanya. Dia menilai Amri pandai dalam mengatur komposisi karyanya. Dan teknik yang digunakan juga tak biasa. Amri memadukan teknik celup dan pemutihan. Dengan proses yang sedikit rumit dan membutuhkan waktu lama. “Menggunakan warna-warna kimia, sehingga menimbulkan warna cerah,”  katanya. Selain itu Amri juga pandai menggabungkan warna meski memadukan warna yang berseberangan.

Djanjang menceritakan, konon salah seorang karyawan Amri tengah mengembangkan teknik gaya Amri. Karyawan itu pernah bekerja menebalkan sket sebelum dibuat batik. “Saya lupa batik apa. Tapi berkembang di Kulonprogo,” ujarnya. Seniman lain yang juga membuat batik abstrak yakni almarhum  Bagong Kussudiardja, almarhum Sumiharjo, dan lain-lain.

Prof Dr Tulus Warsito Guru Besar Fisipol UMY ( SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )

Seorang Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) juga pernah bersinggungan akrab dengan Amri Yahya. Sama dengan sang maestro, profesor ini adalah pengajar di perguruan tinggi. Dia juga aktif sebagai anggota Muhammadiyah. Dia adalah Prof Dr Tulus Warsito.

“Pak Amri itu orang tua yang memberi inspirasi dan arah berkesenian saya,” ucapnya kepada Radar Jogja. Mengenakan batik berwarna dasar jambon, kakek lima cucu ini mengaku bertemu Amri Yahya ketika dirinya masih muda, yaitu di usia 25 tahun.

Pria kelahiran Sragen, Jawa tengah, 66 tahun silam ini lantas terkenang masa lalunya. Di mana ia harus berhenti kuliah dari jurusan seni patung ASRI Jogjakarta (kini ISI Jogjakarta). Sebab, ayah tiga anak ini tidak direstui orang tuanya. “Tapi saya di Jogja terus, mencari makan dari batik,” ujarnya.

Pada saat itulah dirinya bertemu dengan Amri Yahya secara tidak sengaja. Sekitar tahun 1975, dua seniman yang dianggap sangat berpengaruh di Jogja adalah Bagong Kussudiardja dan Amri Yahya.  “Saya akrab dengan keduanya. Tapi kalau dengan Pak Amri, ya di batik,” katanya, yang turut menjelaskan kedekatannya juga terkait dengan spiritualitas.

Persaingan antarpelukis batik di Kota Gudeg ternyata saling memicu kecurigaan. Namun Tulus bersyukur, hal ini tidak terjadi antara dirinya dan sang maestro. “Karena saya banyak melahirkan karya, bahkan Pak Amri turut mengakui kemampuan saya,” ujarnya berbangga, seraya tersenyum.

Ide-ide Amri Yahya dalam seni lukis dan batik disebut peraih Canting Emas 1990 dari Taman Budaya Yogyakarta (YBY) ini luar biasa. Bahkan diakui oleh semua semua orang. Tulus pun meyakini, hanya dengan melihat karya Amri Yahya saja, orang bisa tahu betapa sulitnya proses pembuatan karya tersebut.

Tulus menyebut  Amri Yahya sangat cepat dalam membuat sebuah karya. Bahkan dalam satu hari Amri bisa membuat empat lukisan. “Pak Amri kebanyakan lukisannya seketika,” kagumnya.

Tulus pun mengakui, Amri Yahya memberikannya banyak inspirasi tentang kemerdekaan. Untuk menaklukkan teknik, ide, dan waktu. Sebab, semua ide dapat tergerus atau berubah oleh waktu. “Ini pilihan ya. Melukis cepat, hasilnya belum tentu tidak baik. Tapi melukis lama, belum tentu hasilnya baik,” candanya, lantas terkekeh.

Kecepatan juga diinginkan Amri Yahya dapat diterapkan dalam batik. Bersama Tulus, sifat batik yang lamban dalam prosesnya justru ingin ditaklukkan oleh Amri Yahya.  “Jadi kami mengakali sifat malam, urutan warna dan tekniknya. Supaya ide awal tidak terkuras atau berubah oleh waktu,” ucapnya yang ketika ditemui di kediamannya Perum Candi Gerbang Permai, Sleman, itu mengaku sedang work from home (WFH).

Pria yang memiliki sebutan resmi Prof Dr Ki Amri Yahya itu disebut Tulus adalah komposer. Amri Yahya mampu mengumpulkan beberapa orang dengan keahlian berbeda dan saling tidak mengenal untuk menciptakan semua karya. Hal inilah yang disebut Tulus sebuah rahasia, dan ingin dipelajari oleh orang lain. Namun, Amri Yahya selalu enggan membaginya.

Meskipun begitu akrab, bukan berarti Tulus dan Amri Yahya tidak pernah bertentangan. Soal batik, Amri khawatir ketika Tulus mengajarkannya kepada bangsa lain justru akan ditiru.  “Menurut saya, semakin banyak orang tahu melukis batik, akan semakin banyak yang melestarikan. Toh nggak akan bisa meniru nyawa kita, cuma tekniknya saja.  Di situ saya berseberangan dengan Pak Amri,”  katanya yang sempat menjadi dosen tamu di Universitas YALE itu.

Dwihening Jayanti Guru Batik SMSR Jogja ( ISTIMEWA )

Salah seorang pecinta batik di Jogja mendapat kesan baik atas karya-karya batik yang ditinggalkan figur pelukis batik yang melegenda Amri Yahya. Dwihening Jayanti yang juga seorang guru batik di SMSR Jogja ini sangat menyukai keteknikan Amri Yahya dalam proses melukis batik. “Teknik waktu itu yang jadi pemikiran saya, misalnya background putih bersih hampir tanpa noda. Dan saya mencoba sangat sulit,”  katanya.

Mantan demonstrator batik di Expo 86 Vancouver Canada itu menjelaskan, saat mencoba teknik yang dilakukan Amri Yahya justru hasilnya kemasukan warna lain maupun lilin pecah. Pada waktu itu masih menempuh pendidikan di sekolah kejuruan jurusan batik tahun 1977. Dan, kuliah di STSRI ASRI pada 1984-1985.

Karena ada hubungan dengan pendidikannya, dia mencoba mencari tahu cara melakukan teknik tersebut dengan cara masuk ke Galery Amri Yahya. “Wow, ternyata membutuhkan lilin yang banyak. Waktu lebih lama, ketelitian dan kesabaran dalam membatik tingkat tinggi,” ujar dia yang juga keseharian membatik di Rumah Sanggar Madani ini.

Maka tak heran jika hasil karya Amri Yahya dihargai sangat melejit dan begitu mahal. Namun tetap banyak masyarakat yang meminati. “Walaupun mahal, masih tetap laku. Itu karena menghargai konsep penciptaannya. Dan apresiasi dari masyarakat juga cukup bagus, terbukti beberapa karya dipajang di beberapa gedung strategis seperti bank atau hotel-hotel,” jelasnya.

Menurutnya, masing-masing seniman batik memiliki keunggulan tersendiri. Ada yang menekankan pada kesan ornamentik dan ada pula yang lebih mempertontonkan spontanitas. Begitu pula ada yang kreasi baru namun tidak meninggalkan tradisi. “Saya sangat bangga dan senang karena pelukis batik Amri Yahya ikut urun dalam perkembangan batik di Indonesia pada umumnya dan Jogja khususnya,” ucapnya.

Sehingga pada masa kejayaan batik dari klasik kemudian tradisional berkembang terus dari seniman-seniman Jogja seperti Bagong Kussudiardja, Kuswaji Kawendra Susanto serta masih banyak lagi hingga muncul batik kreasi baru. Dan, di era Amri Yahya munculah batik kontemporer yang pada saat itu namanya terkenal tidak hanya di negeri sendiri, tetapi mendunia. (mel/cr2/wia/laz)