Amri Yahya telah menghasilkan banyak karya semasa hidupnya. Dia seorang seniman yang gigih memperkenalkan batik hingga kancah dunia. Dengan goresan tangannya, batik disulap menjadi sebuah karya seni lukis yang sangat mengagumkan. Lalu, bagaimana Amri Yahya di mata keluarganya?

JIHAN ARON VAHERA, Jogja, Radar Jogja

RADAR JOGJA – “Batik adalah poin penting untuk seorang Amri Yahya,” ujar Adwi Prasetya Yogananta, putera kedua Amri Yahya saat dihubungi Radar Jogja Sabtu (20/6). Oleh pengamat seni, karya-karya Amri Yahya dikategorikan lukisan beraliran abstrak ekspresionis kontemporer.

Sejak akhir 1960-an, Amri menekuni batik sebagai media ungkap dan dikenal sebagai pelopor seni lukis batik. Dia juga dikenal sebagai salah satu dari empat motor seni kaligrafi lukis Indonesia, yakni Ahmad Sadali, AD Pirous, Amang Rahman, dan Amri Yahya.

Di mata Adwi, ayahnya adalah seorang pekerja keras dan disiplin. Semasa hidupnya, almarhum adalah orang yang senang sedekah, senang berbagi ilmu dan pergaulannya luas. “Religius,”  tambahnya.

Adwi bercerita, pada dasarnya Amri adalah seorang pendidik, sehingga banyak sekali pesan yang selalu disampaikan kepada anak-anaknya. “Yang selalu kami ingat pesan beliau adalah jangan lupakan tiga kata sakti, yaitu tolong, maaf, dan terima kasih,” ingat dia.

Dilanjutkan setiap kali menyuruh atau minta seseorang melakukan sesuatu, sekalipun kepada pembantu selalu sertakan kata ‘tolong’. Setiap merasa telah berbuat salah dengan seseorang, siapa pun seseorang itu, jangan pernah segan, jangan pernah malu, jangan pernah menunda untuk meminta ‘maaf’. “Setiap kita telah dibantu seseorang, atau minta bantuan seseorang, siapa pun orang tersebut selalu katakan ‘terima kasih’,”  begitu kata Adwi menirukan pesan ayahnya.

Setiap kenangan dengan ayahnya, tak akan pernah terlupakan oleh anak-anaknya, termasuk Adwi. “Tapi ada satu yang spesial ketika almarhum mengajarkan kepada saya melukis batik abstrak untuk busana dengan menerapkan kaidah-kaidah seni rupa,” kenangnya.

Banyak orang yang tidak tahu Amri adalah pengemar film. Dia sering mengapresiasi film dengan menonton di bioskop. Genre apa pun disukai. “Dari film nasional, Mandarin atau Asia, Bollywood, Eropa, Hollywood, dan lain-lain,” ucap Adwi.

Dalam sepekan pasti menonton film ke bioskop, terkadang dua kali dalam sepekan. Bahkan sehari bisa menonton dua film di bioskop yang berbeda. “Dari film, almarhum mengaku banyak mendapat ilham untuk lukisan-lukisannya, khususnya inspirasi warna. Selain juga mendapat ilmu kehidupan,” katanya.

Adwi menyebutkan, ayahnya memiliki harapan yang besar. Yakni, memimpikan setiap ibukota provinsi dan kota besar di Indonesia memiliki gedung pertunjukan kesenian dan gedung pamer seni rupa yang representatif. Selain itu, dia berkeinginan mendirikan pesantren seni yang di dalamnya, selain diajarkan ilmu agama juga diajarkan tentang seni dan kesenian.

Amri juga berkeinginan memiliki museum yang lengkap di Jogjakarta dan di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, tempat kelahirannya. Selain itu, ingin menerbitkan buku tentang batik lukis dan buku tentang karya-karyanya.

Semasa hidupnya Amri tidak pernah berhenti mengimbau pemerintah untuk mengadakan national art gallery (untuk seni rupa) dan gedung kesenian (untuk seni pertunjukan) di setiap ibukota provinsi seluruh Indonesia. Amri dan kawan-kawannya juga pernah memiliki usulan untuk menjadikan kawasan Benteng Vredeburg menjadi Yogyakarta Arts Center, seperti Taman Ismail Marzuki di Jakarta. Namun sayang, hingga wafat harapan itu belum terealisasi.

Adwi teringat kata-kata Amri. Menurut ayahnya itu, pengertian batik (saat sebelum Amri wafat hingga saat ini) telah terdistorsi. Batik saat ini banyak dikenal sebagai motif. Padahal, batik adalah teknik. “Jadi apa pun motifnya, bila teknik yang digunakan adalah teknik batik (tutup-celup-lorot/gebyok) maka disebut batik,” katanya.

Sebaliknya, walaupun motifnya adalah motif batik tradisional (misal parang rusak, kawung, dan lain-lain), bila pengerjaanya dengan printing atau sablon, itu bukan batik. Tetapi, printing dengan motif batik tradisional.

Adwi berpesan kepada pemerintah untuk selalu melindungi batik dan para pelakunya (seniman, perajin maupun industri). Karena mereka yang telah melestarikan teknik batik. “Jika tidak, (teknik) batik dengan alasan praktis dan ekonomis, akan punah ditelan zaman,” tegasnya.

Untuk generasi milenial dia juga berpesan untuk mengenali batik lebih dalam lagi. Jangan hanya mengenal motifnya, tetapi kenali juga tekniknya. “Bila di almari kalian ada baju batik, coba kenali, apakah benar batik asli dengan teknik batik, atau hanya motifnya saja yang batik,” ajaknya.

Melestarikan teknik batik sama saja dengan melestarikan warisan budaya dunia tak benda yang telah diakui UNESCO. Batik yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda adalah yang dikerjakan dengan tangan/teknik tradisional, tutup-celup-lorot/gebyok (baik tulis maupun cap). “Bukan yang dikerjakan dengan teknik printing dan mesin,” tandas Adwi. (laz)