RADAR JOGJA – Perajin serat alam di Kapanewon Sentolo, tidak mau menyerah dengan Pandemi Covid-19. Menghadapi new normal mereka banting setir memproduksi masker, mukena dan aksesoris lain yang lebih laku dijual.

“Omset kami turun drastis, kini kami beralih produksi masker, mukena dan aksesoris kecil-kecil yang lebih laku dipasaran,” ucap salah satu perajin serat alam, Martini, warga Sentolo, kemarin (12/6).

Dijelaskan, sebelum ada pandemi ia memproduksi ratusan buah tas rajut berbahan serat alam dan benang nilon yang dikerjakan kurang lebih seratus orang karyawan. Omzet produksi tas rajut dengan merek buatannya terbilang cukup tinggi. Dalam sebulan bisa mencapai belasan juta dan dijual ke pedagang di Beringharjo dan Malioboro. “Sebelum pandemi kami juga kirim ke luar DIJ, namun sekarang susah jualnya, karena sebagian besar masih pada tutup,” jelasnya.

Kondisi itu membuat Martini memutar otak supaya usaha yang sudah digelutinya bertahun-tahun bisa tetap jalan. Salah satunya beralih memproduksi barang-barang laik jual di tengah pandemi, seperti masker kain, mukena dan aksesoris.

Masker dijual dengan harga Rp5.500 per buah. Saat ini, dalam satu hari permintaan masker berkisar enam lusin atau 72 lembar. Dia juga melayani pesanan seprai dan mukena sesuai selera konsumen. “Produk kami pasarkan secara daring atau reseller. Syukurlah cukup membantu perekonomian kami,” katanya.

Etos kerja, semangat dan keuletan Martini dalam menghadapi pandemi Covid-19 mendapat perhatian dan apresiasi Dewan. Ketua DPRD Kulonprogo, Akhid Nuryati mengungkapkan, inovasi dan spekulasi terukur yang dilakukan Martini bisa menjadi contoh UMKM lain di Kulonprogo. “Pada masa seperti ini, semua orang, termasuk pelaku usaha kecil dituntut untuk berinovasi,” ungkapnya.
Akhid menegaskan, pihaknya siap membantu pelaku UMKM yang terdampak dan tetap gigih menghadapi pandemi. Salah satu caranya dengan ikut membantu mempromosikan hasil produk kerajinan mereka.

Para perajin juga didorong untuk tetap menjaga dan meningkatkan kualitas produk supaya dapat bertahan dan bersaing dipasaran. Dia juga mendesak Dinas Koperasi dan UKM Kulonprogo mendampingi pelaku UKM dalam persoalan permodalan pada masa sulit seperti ini. Diskop, sebutnya harus bisa membantu program relaksasi kepada perbankan, supaya pelaku UKM yang memiliki kredit di bank bisa dijadwalkan pembayarannya. ‚ÄĚData pelaku UKM yang kesulitan,” tegasnya. (tom/bah)