PANDEMI COVID-19 kini tengah melanda hampir di seluruh belahan dunia. Hampir seluruh negara di dunia telah melaporkan konfirmasi kasus positif Covid-19 di negaranya masing-masing. Bahkan tak terkecuali di Indonesia.

Lambat laun, peningkatan jumlah konfirmasi kasus positif Covid-19 semakin nyata dari hari ke hari. Meskipun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah dilakukan di berbagai tempat, namun tak membuat laju pertambahan kasus positif Covid-19 mereda di bumi pertiwi ini. Seketika banyak yang mulai bertanya-tanya mengenai alasan terhadap realitas ini. Padahal jawabannya ada pada diri kita sendiri. Belum lama kita sama-sama mendengar munculnya tagar “Indonesia Terserah” hingga “Suka-Suka Kalian Saja”.

Mungkin ada beberapa oknum masyarakat yang mengabaikan kemunculan tagar ini sebagai angin lalu padahal tagar ini merupakan sebuah sirine peringatan terhadap masyarakat awam dalam menyikapi masa pandemi ini. Ada juga yang menganggap ini adalah bentuk sindiran terhadap abainya masyarakat dalam menghadapi situasi dewasa ini. Sebenarnya apabila kita resapi bersama, kedua tagar tersebut memiliki satu tujuan yang sama yaitu bahwa dewasa ini banyak dari kita sebagai masyarakat yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dibandingkan menyadari bahwa dirinya adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah kelompok masyarakat. Bahkan jauh sebelum terjadi pelonggaran pada penerapan PSBB pun, keabaian pun sudah mulai muncul.

Sudah membibit bahkan mengkultur sebagai sebuah kebiasaaan. Misalkan saja ketika banyak diketemukannya pelanggaran tidak menggunakan masker saat berkendara. Seringkali alasan yang dikemukakan adalah bahwa pelanggar tersebut tidak mengerti aturan PSBB yang diterapkan.

Alasan demikian dapat dimaklumi ketika PSBB baru saja diterapkan satu atau dua hari, namun bahkan hingga memasuki masa perpanjangan PSBB pun masih terdapat pelanggaran serupa. Sehingga bukan lagi masalah ketidakpahaman yang terjadi melainkan sebuah keabaian yang telah menjadi kebiasaan. Kembali kepada tagar “Indonesia Terserah” dan “Suka-Suka Kalian Saja” yang kini menjadi bahan perbincangan, perlu kita pahami bahwa tagar ini muncul tak lain karena rasa lelah yang tak lagi dibagi bersama untuk dilalui.

Masa pandemi ini memang sebuah ujian yang tidak ringan untuk dilalui. Banyak kerugian ekonomi hingga kerugian lain yang timbul karenanya. Hampir seluruh lapisan masyarakat mengalami dampaknya. Namun ketika semuanya mengalami hal serupa, kini ada kelompok masyarakat yang menikmati rasa kebebasannya dengan mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan. Banyak dari kalangan kini menilai bahwa seharusnya pedagang yang melakukan kegiatan jual beli merupakan penyebab dari hal-hal yang terjadi. Sesungguhnya pemikiran demikian begitu sempit untuk dimaknai.

Kita pun tidak bisa abai dengan kepentingan para pedagang tersebut karena banyak dari pedagang tersebut merupakan pedagang kecil bahkan pedagang musiman. Seperti yang pernah dikemukakan oleh Pemerintah bahwa social hingga physical distancing merupakan hal yang urgen.

Oleh karena itu perlu dipahami juga bahwa Pemerintah memiliki kewenangan untuk menerapkan social hingga physical distancing tersebut namun tanpa mengabaikan hak-hak yang dimiliki pedagang sebagai warga negara. Justru yang kini patut dipertanyakan adalah nurani dari oknum masyarakat yang mengabaikan peraturan dalam masa pandemi ini dengan berbagai dalih. Ketika dalihnya adalah untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papannya, bukankah semua orang di negeri ini membutuhkan itu semua dalam kehidupannya sekarang.

Namun banyak pula dari mereka yang berdiam diri untuk menahan perasaannya tersebut. Rasa kesetiakawanan sosial kini tengah diuji melalui masa pandemi Covid-19 ini termasuk ketika penyaluran bantuan sosial yang dilakukan oleh Pemerintah. Diperlukan sebuah pembudayaan yang tumbuh dari nurani masing-masing untuk menyadari dan melaksanakan kesetiakawanan sosial tersebut dalam sebuah aksi nyata. Kesetiakawanan sosial bukan hanya mengenai cara untuk melawan intoleransi melainkan juga untuk melawan ego antar individu dalam menghadapi masa pandemi ini.

Tanpa sebuah persatuan, tak akan lahir sebuah solusi yang efektif. Apabila Pemerintah mempersiapkan jaringan pengamanan sosial, maka kita sebagai masyarakat harus mengerti bahwa kita pun dapat menjadi jaring pengaman bagi sesama kita sendiri yaitu dengan disiplin dalam melakukan aturan yang diterapkan dalam PSBB dan Pemerintah juga harus mengoptimalisasi sinergi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menjamin kesejahteraan masyarakat dalam masa pandemi. Yakinlah ketika jaminan kesejahteraan tersebut optimal dan kita sebagai masyarakat saling membantu dalam masa pandemi ini maka kita akan melalui masa pandemi ini bersama-sama tanpa menyakiti satu dengan lainnya. (ila)

*Penulis merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dan peneliti hukum pada Social Sciences and Humanities Research Association.