ALLAH menjadikan perbuatan membangun masjid, sebagai tanda keimanan. Sesuai dengan Firman-Nya, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah SWT ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. At-Taubah: 18).

Kemudian Nabi Muhammad SAW juga bersabda,  “Barangsiapa yang membangun masjid (karena mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga” (HR. Bukhari Muslim).

Bila membangun rumah di dunia, butuh dana ratusan bahkan milyaran. Memakan waktu berbulan-bulan. Hanya untuk membangun rumah sementara, yang tak lama akan ditinggalkan. Anda juga harus menyediakan material yang berat dan mengupah tukang. Maka untuk mendapatkan rumah di surga, yang tak terbayang nikmat dan mewahnya, kita dengan ikut andil dalam membangun masjid di dunia.

Membangun masjid ada dua macam cara, yakni yang pertama membangun langsung dengan tangannya sendiri atau tenaganya. Yang kedua, membangun dengan hartanya, yakni dengan mendermakan hartanya untuk membangun masjid. Artinya sekecil apapun andil kita, berupa harta maupun tenaga (suka rela) dalam membangun masjid, maka akan mendapatkan ganjaran.

Membangun masjid yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana memadai merupakan harapan yang tidak mudah diraih tetapi juga bukan sesuatu hal yang mustahil untuk diwujudkan, apabila ada niat tulus ikhlas melalui uluran tangan dari umat muslim yang peduli atas kemajuan agamanya. Sebagai umat Islam yang peduli terhadap agamanya, tentu kita berharap mewujudkan sebuah masjid yang memiliki sarana dan prasarana memadai untuk kenyamanan beribadah.

Seperti halnya kondisi yang terjadi di Masjid Al-Ikhlas, Bototlogo, Botodayaan, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul. Dalam rangka kelanjutan proyek pembangunan Masjid Al-Ikhlas sejak awal dibangun. Namun, pembangunan masjid ini belum seutuhnya mengingat masih belum lengkapnya tenda teras masjid dan beberapa fasilitas mengalami kerusakan. Oleh karenanya, melalui kegiatan Renovasi Masjid Al-Ikhlas ini, kami panitia pembangunan mohon dukungan dari para dermawan baik moril maupun materiil (dana) guna kesuksesan serta kelancaran pembangunan tersebut.

Total rencana anggaran renovasi masjid ini berkisar Rp 11.500.000 untuk pemasangan tenda, renovasi kamar mandi dan tempat wudhu serta pengadaan sound. Selain itu juga guna menghadapi wabah Covid-19 yang kian hari belum juga kunjung mereda, Masjid Al-Ikhlas juga berinisiatif untuk pengadaan disinfektan. Sampai sejauh ini, dana yang terkumpul Rp 1.000.000. Jadi, masih kekurangan dana sekitar Rp 10.500.000. (ila)

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga dan

Peserta KKN Daring Tematik Covid-19 Angkatan 101 Kelompok 2 Bototlogo.