WHO memperingatkan Covid-19 akan ada sampai dua tahun mendatang. Suasana perang melawan Covid-19 harus tetap ada. Kewaspadaan harus terus ada. Protokol Kesehatan harus selalu dilakukan setiap hari. Membudayakan kebersihan dengan cuci tangan pakai sabun, memakai masker dan tidak berkerumunan orang dan menjaga jarak aman wajib dilakukan, dan lain-lain. Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan agar masyarakat terlindungi.

Pemerintah selalu mengeluarkan kebijakan demi melindungi masyarakat. Walaupun kebijakan-kebijakan itu lebih condong melihat dari sudut pandang pemerintah. Kalau ditanya ke mereka, apakah kebijakan yang dikeluarkan demi melindungi keselamatan masyarakat? Pasti dijawab iya untuk melindungi masyarakat. Akan tetapi kebijakan yang dikeluarkan tidak selalu selaras dengan pernyataannya tersebut.

Kebijakan-kebijakan demi memerangi Covid-19 ada dampak positif dan negatifnya. Apakah dampak-dampak ini sudah diukur atau belum. Ini yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah. Apakah benar kebijakan-kebijakan tersebut mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Atau bisa jadi kebijakan-kebijakan itu diambil tanpa ada data yang valid. Atau bisa jadi kebijakan-kebijakannya hanya untuk melindungi kepentingan politik saja.

Pemerintah harus membuktikan kebijakan-kebijakan yang telah diambil merupakan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat. Tunjukkan bahwa tidak ada keberpihakkan kepada golongan tertentu atau kepentingan politik tertentu. Masyarakat membutuhkan penjelasan dari pemerintah. Masyarakat butuh dilindungi. Masyarakat jangan dijadikan kelinci percobaan. Masyarakat jangan dikorbankan. Lindungi setiap nyawa masyarakat.

Virus Covid-19 yang kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang ternyata dapat mengubah tatanan kenegaraan dan budaya hidup masyarakat pada umumnya. Masa pandemi Covid-19 ini merupakan masa-masa untuk melakukan intropeksi diri. Pemerintah harus memikirkan banyak hal yang sebelumnya tidak terpikirkan. Saatnya pemerintah memainkan peran sebagai pelindung masyarakat. Bukan malah memanfaatkan pandemi Covid-19 untuk kepentingan diri sendiri. (ila)

*Penulis merupakan dosen Universitas ‘Aisyiyah Jogjakarta.