RADAR JOGJA – Bencana gelombang pasang air laut menghantam pantai kawasan selatan sejak Selasa (26/5). Bencana ini mengakibatkan kerusakan ratusan bangunan yang berada di seputaran bibir pantai di Gunungkidul, Bantul, dan Kulonprogo.

Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)  Reni Kraningtyas menjelaskan, sejauh ini ketinggian gelombang telah berangsur-angsur menurun. “(Ketinggian) dari 3,5 sampai 5 meter. Kemudian besok dan lusa juga dipredeksi cenderung menurun,” katanya.

Menurutnya, puncak kuatnya gelombang terjadi pada 27-28 Mei lalu. Adapun tanda-tanda gelombang tinggi sudah dirasakan sejak 26 Mei. “Kecepatan angin fluktuatif dari 39-61 km per jam. Pada saat puncak gelombang kecepatan angin bisa mencapai 61 km/jam,” katanya.

Pelaksana Tugas Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana mengatakan, bencana mengakibatkan sedikitnya 170 bangunan non permanen yang berada di dalam kawasan sempadan pantai mengalami kerusakan. Misalnya warung makan, gazebo, kamar mandi, Pos SAR, dan lapak snorkling. Kerusakan yang ditimbulkan mulai dari tingkat ringan hingga berat. “Juga ada talud jebol sepanjang empat meter di Baron,” tandasnya. Kendati demikian, Biwara belum bisa menafsirkan total kerugian yang ditimbulkan.

Mayoritas bangunan yang mengalami kerusakan terletak kurang dari 100 meter dari bibir pantai. Padahal sudah ada regulasi yang mengatur mengenai ketentuan pendirian bangunan. “Kalau bicara regulasi (antara) tempat dan pantai itu kan 100 meter, untuk menghindari hal-hal seperti ini. Malah ada (bangunan) yang cuma 10 meter dari bibir pantai. Berarti tidak memenuhi syarat,” tandasnya.

Biwara menjelaskan, pihaknya telah merencanakan upaya penataan kawasan pantai yang dilakukan secara bertahap dari Pantai Baron. Namun pelaksanaannya terkendala akibat pagebluk Covid-19. “Kondisi seperti ini ada refocusing anggaran. Jadi tertunda kegiatan-kegiatan yang sifatnya pembangunan,” tandasnya.

Penataan telah dilakukan sejak tahun lalu dengan memanfaatkan Dana Keistimewaan (Danais). “Di Bantul yang sudah siap lahannya dibangaun warung dan parkiran. Dilakukan bertahap,” katanya. Biwara lantas mengimbau masyarakat untuk tetap waspada di musim gelombang tinggi.

Koordinator Tim Search And Rescue Perlindungan Masyarakat (SAR Linmas) Wilayah II Pantai Baron Marjono mengatakan, bangunan yang terdampak berada di zona merah. Yakni berjarak kurang dari 100 meter dari bibir pantai. “Memang itu di zona merah, di zona larangan. Bukan bangunan permanen tapi lapak-lapak pedagang,” katanya.

Akibat pagebluk korona, aktivitas wisata menjadi sepi. Imbasnya banyak gazebo yang menjadi tak terawat. Sehingga menimbulkan kerusakan yang demikian besar. “Ditempati hanya hari libur kalau hari biasa tidak dibuat jualan,” jelasnya.

Menurutnya, pemerintah setempat telah memiliki rencana untuk melakukan penertiban dan penataan. Namun sejauh ini belum ada tempat alternatif untuk menampung pedagang. “Mau ada penertiban. Tapi ya baru rencana,” jelasnya.(tor/din)