POPULARITAS media sosial berkaitan erat dengan menjamurnya smartphone yang terus meningkat. Alih-alih infrakstruktur yang semakin merata mendorong pesatnya penggunaan internet di Indonesia. Hal ini, juga berbanding lurus dengan penetrasi internet, terutama dikalangan anak muda. Bahkan We Are Social (2018) melaporkan Indonesia menjadi pasar terbesar facebook dan negara ke-empat dengan penetrasi media sosial tertinggi di dunia.

Situasi ini, menunjukkan kemampuan media sosial kini telah merasuki kehidupan masyarakat Indonesia. Popularitas media sosial juga dapat kita lihat saat Jakarta didaulat sebagai ibu kota Twitter karena jumlah kicauan atau tweet yang sangat banyak, bahkan tertinggi di dunia.

Sayangnya, penetrasi media sosial ini belum diimbangi dengan kemampuan literasi yang memadai, sehingga belakangan pengguna media sosial seringkali berimplikasi pada hal-hal yang berkonotasi negatif. Salah satunya adalah Hoaks. Meskipun upaya edukasi terhadap masyarakat telah berkali-kali dilakukan.

Hoaks sendiri merupakan penipuan, kebohongan, yang dibuat dan disebarkan untuk kepentingan yang tidak baik. Wacana mengenai hoaks juga diinformasikan melalui fake news atau berita palsu. Hoaks seringkali menyerang tanpa pandang bulu mengenai berbagai hal, seperti; agama, ras, ideologi, juga pada saat kontestasi politik. Seringkali informasi yang benar dan riil pada akhirnya tertutupi oleh hoaks.

Undang-undang ITE di Indonesia sudah dibentuk oleh pemerintah dan dapat menjerat siapa saja yang dengan sengaja menyebarkan hoaks. Akan tetapi, penekanan hukum saja tidaklah cukup untuk menanggulangi hoaks yang beredar. Membumikan literasi media sosial bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi penyebaran hoaks di media sosial.

Literasi media, dapat dipahami sebagai kemampuan mengkritisi atau menganalisa pesan hoaks di media yang didapat, agar dapat diidentifikasi untuk kemudian dicegah penyebarannya. Para generasi muda haruslah didampingi dan didorong agar memiliki kemapuan literasi media sosial yang baik. Hal ini, agar setiap individu mampu mengenali hoaks yang belakangan banyak beredar, serta dapat menyaring informasi yang semestinya mereka konsumsi.

Sarana strategis dengan meningkatkan sinergi antara lembaga-lembaga yang  berkempentingan. Termasuk dengan melakukan edukasi yang harus terus dilakukan terutama terkait literasi media sosial kepada seluruh lapisan masyaarakat. Gerakan literasi media dalam konteks ini, perlu secara spesifik menyasar kepada media sosial. Alasanya karena penetrasi media sosial di kalangan generasi muda, kurangnya pemahaman mendalam, serta maraknya hoaks. Setidaknya ada cara efektif yang dapat dilakukan melalui pemberdayaan individu dengan mengidentifiksi hoaks agar dapat meminimalisir penyebaran.

Oleh karena itulah, membumikan literasi media sosial dipandang sangat penting untuk melatih anak muda dan masyarakat secara luar menggunakan media social untuk menyerap informasi yang positif. Karena penggunaan media sosial telah berkembang dan memberikan dampak yang besar pada segenap lapisan masyarakat Indonesia.

Hal ini juga dikarenakan dewasa ini media pembelajaran di sekolah-sekolah telah menggunakan basis internet. Tingginya penetrasi media sosial setelah ini, setidaknya dapat mengurangi penyebaran informasi hoaks yang ada di masyarakat. Dengan adanya literasi media sosial yang berkesinambungan dapat berkontribusi mencegah tersebarnya informasi hoaks secara umum, dan merupakan upaya menetralisir beragam dampak negatif hoaks yang beredar di masyarakat melalui media sosial. (ila)

* Penulis merupakan mahasiswa Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga