RADAR JOGJA – Dampak Covid-19 mulai dirasakan di sektor pertanian di Kulonprogo. Petani cabai mengeluhkan harga yang merosot drastis selama sepekan terakhir. Harga cabai kini terpuruk, hanya Rp 3. 750 per kilogram.

Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji, Kelurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Sukarman mengatakan, tren turunnya harga cabai sudah berlangsung dalam sepekan. Harga cabai sempat masih bertahan Rp 14 ribu per kilogram, anjlok menjadi Rp 3.750. “Hari H Lebaran masih Rp 14 ribu per kilogram, kemudian turun Rp 7 ribu per kilogram, turun lagi menjadi Rp 4 ribu per kilogram dan sekarang posisinya di Rp 3.750 per kilogram,” katanya, kemarin (28/5).

Dijelaskan, pandemi korona menjadi faktor utama anjloknya harga cabai di tingkat petani. Pasar-pasar menjadi sepi. Penjual dan pembeli semakin terbatas untuk bertransaksi di pasar.

Menurutnya, Harga murah ini karena banyak restoran tutup. Hotel, orang hajatan, pasaran juga dibatasi. Pedagang berjualan juga sulit. Sejatinya bisa kirim ke Jakarta dan daerah lain, tetapi di sana juga sulit menjual akibat PSBB.

Menurutnya, petani cabai sejauh ini hanya bisa petik karena sayang jika cabai dibiarkan busuk di pohon. Sementara untuk harga di bawah Rp 10 ribu bagi petani itu jelas tidak dapat untung. “Padahal saat ini musim petik ke empat. Juli mendatang menjadi puncak produksi, cabai melimpah tapi harganya jatuh,” ujarnya.

Ditambahkan, untuk proses tanam, petani cabai di wilayah Bugel termasuk lebih awal, petani di wilayah Trisik bahkan baru mulai panen Mei.

Salah satu petani cabai, Emi Korinah, 34, warga Bugel II mengungkapkan, kerugian petani akibat biaya operasional seperti pupuk dan ongkos petik tidak sebanding dengan harga jual yang turun drastis. “Saya tidak tega membiarkan cabai ini membusuk di pohon, jadi ya berapapun harganya tetap saya petik,’’ ungkapnya. (tom/din)