RADAR JOGJA – Kerugian material akibat ombak tinggi di Pantai Trisik, Kapanewon Galur, Kulonprogo, sementara ditaksir mencapai Rp 200 juta. Fenomena gelombang tinggi juga masih terjadi di sepanjang pantai selatan wilayah Kulonprogo, kemarin (27/5).

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Pantai Trisik Jaka Samudra mengatakan, kerugian yang ditimbulkan salah satunya rusaknya jembatan wisata laguna Trisik. Jembatan wisata yang terbuat dari bambu itu porak poranda dihantam ombak pasang Rabu (26/5) pagi.

Selain jembatan, kolam renang dan sejumlah warung milik warga juga bernasib sama. Sejumlah peralatan yang disimpan di dalam lapak-lapak warung semi permanen, hanyut tersapu ombak. “Tinggi gelombang mencapai enam meter, ombak bahkan menyentuh Lapangan Trisik yang berjarak sekitar 30 meter dari bibir pantai,” katanya.

Dijelaskan, Informasi dari BMKG DIJ menyebutkan gelombang pasang masih akan terjadi, bahkan potensinya semakin besar beberapa hari ke depan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya bersama jajaran Polsek dan Koramil Galur akan melakukan penjagaan di sepanjang pantai itu. “Warga yang dekat dengan pantai diimbau untuk waspada,” jelasnya.

Taufik Mulyono, 50, warga setempat mengungkapkan, ombak besar merupakan fenomena alam yang lazim terjadi setiap tahun. Fnomena ini sudah menjadi pemandangan biasa bagi masyarakat pesisir. Kendati demikian, warga tetap meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. “Sebenarnya ini hal yang biasa, cuma memang untuk kali ini ombak cukup besar. Kami cukup jaga-jaga di pinggir pantai saja,” ungkapnya.

Sementara itu, ombak di Pantai Glagah, Kapanewon Temon, juga terpantau sama. Gelombang pasang bahkan mampu menyentuh jalan penghubung pantai Glagah-Congot di selatan Yogyakarta International Airport (YIA).

Warga juga meningkatkan kewaspadaannya. Personel SRI Wilayah V Pantai Glagah juga melakukan patroli secara bergantian 24 jam nonstop. Beruntung dalam kondisi seperti ini, pengunjung objek wisata di Pantai Glagah sepi, imbas dari pandemi korona. (tom/laz)