Akan Diserahkan kepada Keluarga sang Idola dan Dilelang

RADAR JOGJA – Musahid, seniman patung dari Bantul mewujudkan kekagumannya kepada Didi Kempot. Padahal dia belum pernah bertemu atau menonton konser sang idola secara langsung. Dia hanya membandingkan ingatan ketika menonton di televisi.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Saat ditemui di rumanhnya di Jomboran RT 03, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Musahid tengah merapikan patung yang berdimensi 54 cm ×  40 cm × 66 cm. “Ini mulainya minggu kemarin,” ungkapnya menunjuk patung dengan bahan material tanah liat itu.

Musahid mengakui, di minggu-minggu awal pengerjaan patung adalah masa tersulitnya. Dia menyebut dirinya bunek atau bosan. Sebab tanah liat yang diuleninya tak kunjung serupa dengan The God Father of Broken Heart. Kepenatan yang membucah, lantas membuatnya meninggalkan proses pengerjaan selama beberapa waktu.

Namun kecintaan lulusan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) 1999 itu akan sang maestro membangkitkan semangatnya lagi. Tidak tanggung-tanggung, Musahid bersemangat menggarap sampai larut malam. “Ya kesulitannya memang mengatur mood,” ujarnya kepada Radar Jogja ditemui di studionya Jumat (22/5)

Kritik dari penggemar Didi Kempot mengenai patung buatan Musahid juga sempat membuatnya down. Namun, pria yang menghabiskan tanah liat sebanyak 30 kilogram dalam membuat patung sang idolanya itu meneguhkan diri. “Itu tekanan, tetap saya tampung,” ujarnya meyakinkan.

Kesulitan lain yang dialami oleh Musahid adalah referensi atau foto idolanya yang berbeda-beda. Selain itu, dia belum pernah bertemu atau menonton konser Didi Kempot secara langsung. “Jadi saya hanya membandingkan dengan ingatan saya ketika menonton di televisi,” sebut seniman yang telah menggeluti profesi sebagai pematung sejak 2000 itu.

Kendati tidak pernah bertemu, Musahid percaya penyanyi yang populer dengan lagun Stasiun Bapalan itu gampang kekancan atau bergaul. Saat mengetahui Didi Kempot berpulang, dengan mimik sayu Musahid menyebut, dia merasa kasihan. “Yang saya suka dia itu orangnya baik. Kalau buat lagu atau album deweke menangi konco (dia memilih bersama teman, Red). Tidak rekaman di studio. Dia juga mengangkat musisi bawah,” ujarnya lantas menjelaskan, sikap low profile itu patut dijadikan tauladan.

Musahid kembali tersenyum, saat ditanya siapa yang memintanya membuat patung. Pria yang sempat mengenyam perguruan tinggi di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakaitu mengaku, proyek ini adalah suruhan bosnya, Rinto Irvanda. “Tapi karena saya juga suka, jadi seneng,” ujarnya yang membuat patung Didi Kempot dengan perbandingan 1 : 1,25 dengan sosok aslinya.

Koran ini lantas mengkonfirmasi Rinto Irvanda yang juga owner sebuah studio patung itu. Ide untuk membuat patung Didi Kempot muncul atas inisiatifnya untuk membuat kenang-kenangan yang akan ditujukan kepada keluarga sang maestro. Awalnya, Rinto hanya akan membuat patung, satu patung akan diserahkan kepada Yan Vellia, sedangkan satu lagi akan dilelang. “Ada masukan, karena Didi Kempot memiliki dua istri. Jadi kami bikin tiga,” ungkap ayah dua orang putera itu.

Pria yang melanjutkan bisnis ayahnya itu memaparkan, khusus untuk satu patung yang akan dilelang, seutuhnya akan disumbangkan kepada seniman yang turut terdampak pandemi Covid-19. Rinto menyebutkan, estimasi harga patung buatan Musahid berkisar antara Rp 100 juta sampai Rp 150 juta. “Yang dua akan diserahkan kepada keluarga saat 40 hari Didi Kempot,” katanya yang saat pemakaman tidak berkesempatan mengantarkan sang idola ke pusara.

Pria 26 tahun itu juga mengungkapkan patung yang saat ini tengah dikerjakan Musahid sedang ditanyakan kemiripannya kepada pihak keluarga Didi Kempot. Sebab tempo hari sempat mendapat koreksi dari keluarga adik Mamiek Srimulat itu, patung buatan Musahid membuat wajah Didi Kempot tampak terlalu tua. “Ini lagi nunggu, pihak keluarga sudah puas apa belum untuk masuk ke tahap selanjutnya,” sebutnya seraya tertawa.(din)