RADAR JOGJA – Meski bersamaan dengan pandemi korona, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIJ tetap menyiapkan kebutuhan uang tunai sebesar Rp 2,6 triliun untuk Lebaran 2020 ini. Jumlah tersebut turun 50 persen dibandingkan tahun lalu.

Kepala BI DIJ Hilman Tisnawan menyebut, khusus untuk uang pecahan kecil (UPK), Rp 20 ribu ke bawah, BI DIJ menyediakan dalam kondisi gress belum pernah beredar di masyarakat atau biasa disebut Hasil Cetak Sempurna (HCS). Sedangkan untuk uang pecahan besar (UPB), Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu, disiapkan stok dengan dua kondisi yaitu HCS dan uang layak edar (ULE) eks peredaran di masyarakat. “Yang pasti sudah melalui proses karantina selama 14 hari dan diberikan disinfektan sebelum didistribusikan kepada masyarakat,” katanya Kamis (21/5).

Uang tunai tersebut, lanjut Hilman, telah mulai didistribusikan pada 4 Mei. Hingga12 Mei lalu telah terdistribusikan sejumlah Rp 703 miliar. Dalam mencegah perluasan penyebaran Covid-19, BI mengimbau masyarakat untuk menggunakan transaksi pembayaran secara nontunai melalui digital banking, uang elektronik, dan QR Code pembayaran dengan standar QRIS (QR Code Indonesian Standard).

Dalam memitigasi penyebaran Covid-19 BI DIJ juga mendukung penerapan social distancing yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan menghentikan sementara kegiatan yang melibatkan banyak interaksi sosial. “Kegiatan layanan kas keliling dalam dan luar kota, layanan penukaran uang rusak serta layanan klarifikasi uang palsu oleh perbankan dan masyarakat kami hentikan sementara,” tuturnya.

Layanan penukaran kepada masyarakat hanya disediakan melalui loket di bank umum. BI DIJ telah berkoordinasi dan meminta perbankan agar dalam memberikan layanan menegakkan protokol pencegahan Covid-19 secara ketat . “Rangkaian program kerja tersebut diharapkan dapat menghambat penyebaran Covid-19 namun tetap dapat memenuhi seluruh kebutuhan uang tunai di masyarakat DIJ sehingga roda perekonomian tetap berjalan,” ungkapnya. (pra)