RADAR JOGJA –  Angka kasus kekerasan di Kabupaten Bantul menurun drastis selama pandemi korona (Covid-19). Berdasarkan data Unit Pelayanan Teknis  Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial PPA Bantul, ada 19 kasus selama pandemi sejak Maret.

Kasubag TU UPTD PPA Haryani mengungkapkan, total aduan kekerasan selama 2020 ada 64 kasus. Yakni, 23 kasus di Januari dan 22 kasus pada Februari. Lalu pada Maret lalu terdapat 8 kasus. Pada April naik dua angka menjadi 10 kasus. Dan satu kasus lagi terkait aduan pada per Mei, Selasa (19/5). Sementara total kasus pengaduan pada 2019 sebanyak 160 orang. “Dominasi terjadi pada kekerasan seksual,” ungkap Haryani, Selasa (19/5).

Diungkapkan, aduan kekerasan seksual terhadap anak terjadi lonjakan dari waktu ke waktu. Meski tidak signifikan ini masih menjadi PR besar untuk menekan angka kekerasan di Bumi Projotamansari.

Faktor pemicu terjadinya kekerasan sebagian bermula dari media sosial. Kemudian menjalin hubungan hingga akhirnya menimbulkan kekerasan. Tak sedikit pula kasus kekerasan terjadi dalam lingkungan keluarga. Kemudian kasus kekerasan rumah tangga juga dipicu, akibat ketidaktahuan penddikan orangtua. Lalu juga karena faktor ekonomi, ketidakcocokan hingga perselingkuhan yang mengundang perceraian. Juga memicu kekerasan dalam rumah tangga. “Kekerasan seksual cenderung menimpa anak-anak. Sementara mayoritas terjadi berawal dari kenalan kemudian berkomunikasi melalui media sosial,” bebernya.

Teksos Tenaga Ahli Pekerja Sosial UPTD PPA Dinsos Endah Istikhomah menambahkan, meski di tengah pandemi ini, kasus kekerasan dapat selalu termonitoring. Warga dipersilakan mengadu melalui layanan online pribadi atau dapat mengunjungi kantor pelayanan. Pihaknya juga siap menerima bimbingan konseling jika sewaktu-waktu dibutuhkan. “Kami juga siap mendampingi sampai ke ranah hukum dan psikologis,’’ ucapnya. (mel/din)