RADAR JOGJA – Ketua Pelaksana Tim Percepatan Partisipasi Masyarakat Penanggulangan Pandemi Covid-19 PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Andrianto Purnawan menilai kasus Covid-19 di Jogjakarta masih dalam kategori under control. Artinya jumlah kasus dengan fasilitas penanganan relatif seimbang.

Penilaian ini berdasarkan evaluasi akumulasi kasus yang muncul. Disatu sisi penanganan secara medis juga tergolong optimal. Sehingga angka kemunculan kasus masih dalam batas wajar.

“Sebenarnya penanganan Covidnya sudah bagus, bisa dibilang under control. Angka kasus masih bisa terkontrol. Bisa menjadi role model,” jelasnya ditemui di Bangsal Kepatihan, Jumat Sore (22/5).

Dokter spesialis bedah syaraf ini menuturkan Covid-19 telah menjadi bencana global. Setidaknya 210 negara turut terdampak virus yang berkembang di Wuhan Tiongkok ini. Bahkan setiap negara terkadang memiliki spesimen yang berbeda.

Kondisi ini, lanjutnya, mau tak mau akan membuat herd immunity. Sebuah kondisi yang menyebabkan kekebalan manusia terhadap penyakit terbentuk secara alamiah. Acuannya adalah kondisi pandemi hingga tidak hilangnya penyakit dalam kurun waktu yang lama.

“Nanti sama seperti TBC, sampai sekarang pun masih ada. Hidup berdampingan itu dalam artian seperti ini. Penyakit tetap ada, tapi kita tahu bagaimana mengantisipasinya, dengan PHBS, pakai masker, cuci tangan dan lainnya,” katanya.

Jogjakarta, lanjutnya, bisa lebih optimal dalam penanganan Covid-19. Kuncinya adalah sinergitas kuat antara pemerintah dan masyarakat. Keterlibatan tak sekadar menjalani kebijakan tapi menjadi bagian dari kebijakan itu. Sehingga gerakan muncul atas kesadaran dan disiplin diri.

Termasuk penerapan skema the new normal sebagai solusi. Jogjakarta, menurutnya, telah siap meski dengan beberapa catatan. Seperti penerapan hidup bersih dan sehat sebagai gaya hidup baru. Mengenakan masker dalam rutinitas sehari-hari. Hingga physical distancing dan cuci tangan.

“Tentang the new normal, bisa saja siap tapi catatannya harus disiplin menerapkan protokol Covid dan awareness tinggi. Kalau bisa jangan sakit, kalau sakit jangan parah, kalau parah jangan sampai meninggal dunia. Jadi kuncinya di kesiapan,” ujarnya. (dwi/tif)