RADAR JOGJA – Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengimbau warganya tidak menggelar takbir keliling dan sholat Ied berjamaah di ruang terbuka. Anjuran ini sesuai dengan maklumat bersama lintas tokoh masyarakat dan agama. Sebagai wujud antisipasi atas pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Kekhawatiran orang nomor satu Kota Jogja ini cukup beralasan. Apalagi saat ini masih terdapat tiga klaster besar Covid-19. Dia tak ingin klaster meluas bahkan muncul klaster baru akibat abai atas maklumat bersama.

“Intinya, kondisi masih seperti ini, masih ada tiga klaster yang belum teridentifikasi. Kami menyarankan untuk tidak melaksanakan tidak takbiran dan sholat Idul Fitri diluar perumahan atau di lapangan. Lebih baik ditiadakan,” jelasnya ditemui di Mapolresta Jogja, Jumat (22/5). 

Haryadi berharap masyarakat Kota Jogja bisa memahami maklumat secara mendalam. Terlebih anjuran ini terbit demi kebaikan bersama. Sebagai upaya komunal dalam mencegah persebaran Covid-19.

Walau begitu dia tak menampik adanya kemungkinan takbir keliling maupun ibadah sholat Ied. Dia meminta agar tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat mengambil peran. Berupa edukasi akan dampak apabila tetap nekat menyelenggarakan.

“Memang ada info yang tetap menyelenggarakan, kalau tetap ada yang tetap laksanakan, kami lakukan pendekatan berupa imbauan. Kami libatkan semua tokoh masyarakat dan agama,” katanya.

Haryadi juga mengimbau masyarakat mengurangi sifat euforia menyambut hari raya Idul Fitri di pusat perbelanjaan Kota Jogja.

“Lebaran tidak harus baju baru tidak apalah, pakai yang kemarin juga masih bagua. Mungkin euforianya beda tapi keadaanya memang seperti ini. Sebisa mungkin hindari kerumunan, karena disana itu jadi potensi penyebaran virus,” pesannya.

Kapolresta Jogja Kombes Pol Armaini meminta masyarakat menahan hasrat perayaan komunal. Dia memahami bahwa tradisi memang melekat di setiap lingkungan masyarakat. Namun menjadi catatan berbeda apabila saat ini masa pandemi Covid-19.

Pihaknya telah menyiapkan pengamanan khusus apabila ada takbir keliling. Apabila pendekatan persuasif tak mempan maka rombongan akan dibawa ke Mapolresta Jogja. Untuk selanjutnya diberikan pencerahan tentang kondisi pandemi Covid-19.

“Covid ini penyakitnya kerumunan, bisa timbul karena kerumunan. Semaksimal mungkin hindari membuat kerumunan. Pendekatan sudah dilakukan oleh Polsek, Koramil kepada pengurus masjid dan masyarakat,” katanya.

Walau begitu perwira menengah tiga melati ini memastikan tak ada sanksi. Pihaknya mengutamakan pendekatan persuasif. Terlebih Jogjakarta memang belum menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Dia mengingatkan agar masyarakat tetap patuh atas kebijakan pemerintah. Termasuk keinginan untuk takbir keliling di malam perayaan Idul Fitri. Dia justru mengimbau agar masyarakat merayakan di rumah bersama keluarga. Tentunya dengan beribadah yang lebih memiliki nilai manfaat positif.

“Sebenarnya nggak cuma takbir keliling, ada kerumunan pun juga kami bubarkan. Besok kalau ada yang keliling kami arahkan ke Polresta saja. Tidak takbir keliling untuk mencegah eforia berlebihan. Banyak hal yang lebih positif untuk bisa dilakukan,” tegasnya. (dwi/tif)