RADAR JOGJA – Jelang Idul Fitri gelombang mudik yang masuk maupun melintas di Jogjakarta masih terjadi. Meski dilarang, mereka tetap nekat kucing-kucingan dengan petugas agar dapat lolos sampai di kampung halaman.

Kepala Bidang Lalu Lintas (Kabid Lantas) Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul Anjar Arintaka menuturkan, para pemudik kerap kali mengelabui petugas. Seperti yang dialami petugas posko gabungan pemantauan pemudik di Srandakan. Ketika ada, petugas memeriksa suhu rombongan pemudik. Karena menyalahi ketentuan, rombongan pun diminta untuk putar balik. “Bukannya balik arah malah cari jalan tikus lewat Sedayu. Ketemu petugas juga, akhirnya kami antar ke RS PKU Muhammadiyah Gamping,” sebut Anjar ditemui di kantornya kemarin (20/5).

Trik lain yang kerap dilakukan pemudik yakni dengan sengaja parkir di suatu tempat setelah diperiksa. Pemudik tersebut, lantas menguhubungi anggota keluarganya untuk dijemput menggunakan kendaraan pelat DIJ. “Otomatis kami tidak dapat mencegat, karena yang kami cegat hanya pelat yang berasal dari luar DIJ,” ungkapnya.

Dijelaskan, sejak beroperasi 28 April hingga 17 Mei, Dishub telah memeriksa 1.520 kendaraan. Sedangkan jumlah penumpang yang telah diperiksa sekitar 3.000 orang. Dari jumlah itu, sekitar 58 orang berasal dari zona merah. Kebanyakan pemudik yang menjadikan Bantul sebagai perlintasan dengan tujuan akhir Solo, Klaten, Sragen, dan Jawa Timur. “Tapi ternyata banyak juga warga Bantul yang memiliki kendaraan pelat luar kota,” paparnya.

Sementara itu Kabid Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Bantul Arif Darmawan menyebut, Pemkab Bantul mencatat sebanyak 5.600 pemudik telah memasuki Bantul. Namun, angka tersebut hanya berasal bagi pemudik yang mendaftarkan diri atau yang didaftarkan oleh RT, dukuh, kepala desa, atau camat. “ Kami nggak bisa mengawasi detail orang per orang,” sebut
Ditegaskan pihaknya tetap menerapkan aturan pemerintah mengenai larang mudik. Bila terjadi, pemudik harus melaporkan diri ke aplikasi Pemkab Bantul. Pemudik yang tidak memahami informasi teknologi dapat meminta bantuan pemerintah terkait. “Itu yang kucing-kucingan, pastinya ada. Tapi harusnya nggak banyak,” sebutnya.

Sementara di Gunungkidul, perantau yang terlanjur tiba di kampung halaman tidak bisa sepenuhnya menikmati lebaran bersama keluarga. Mereka terpaksa dikarantina hingga lebaran usai.

Sekretaris Desa Botodayakan, Kecamatan Rongkop, Agung Priyatma Legawa mengatakan, baru-baru ini 172 orang pemudik tiba di wilayahnya. Mereka datang dalam dua gelombang. Sebanyak 50 orang mulai melakukan isolasi mandiri.

Dijelaskan, selama dikarantina kebutuhan makan dicukupi keluarga dan warga. Begitu juga dengan fasilitas kesehatan juga dalam pemantauan tenaga medis puskesmas. Hingga saat ini kondisi kesehatan masih terpantau normal.

Sementara itu, Bidang Komunikasi dan Informasi Gugus Tugas Pengendalian Covid-19 Kabupaten Gunungkidul, Kelik Yuniantoro mengatakan, hingga H-4 lebaran, tercatat lebih dari 13 ribu pemudik tiba di kampung halaman. Terbanyak dari kecamatan Semin dengan 1.220 orang, disusul Playen 1.101 orang, dan Ngawen 1.089 orang. (cr2/gun/bah)