RADAR JOGJA – Marsekal Yuyu Sutisna SE MM resmi mengakhiri jabatannya sebagai orang nomor satu di TNI AU, Rabu (20/5). 10 Juni mendatang, dia juga memasuki masa pensiun.  Jabatan Kepala Staff TNI AU digantikan Marsda TNI Fadjar Prasetyo yang dilantik langsung oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara.

Putra Bandung kelahiran 58 tahun silam ini mengawali kariernya dari letnan dua hingga meraih posisi tertinggi di TNI AU sebagai KSAU melalui Penerbang tempur pesawat F-5E/F Tiger II. Posisi puncak ini mengukir histori bersama Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Yuyu Sutisna tercatat sebagai KSAU yang sama-sama dari alumni 1986.  Prestasi gemilang ini pernah terjadi pada alumni AAU 73, yaitu Marsekal Djoko Suyanto dan Marsekal Herman Prayitno, artinya satu angkatan dua orang bisa menjadi KSAU dan Panglima TNI, peristiwa ini hampir langka.

Dari keterangan pers tertulis, Yuyu Sutisna menyelesaikan Sekolah Penerbangnya di Lanud Adisutjipto setahun kemudian. Dia terpilih masuk ke Skadron Udara 14 yang mengawaki pesawat F-5. Sebagai penerbang muda yang memilih callsign “Lion”, Yuyu menorehkan prestasi hingga meraih jabatan Komandan Skadron pada tahun 2001- 2003. Penugasan di Skadron 14 membuatnya meraih badge 2.000 jam terbang, hingga total jam terbang yang diraihnya mencapai 4.250 jam terbang di pesawat F-5, Hawk Mk-53 serta di pesawat latih AS-202 Bravo dan T-34C Charlie. 

Yuyu  Sutisna  termasuk putra terbaik TNI AU dalam setiap pendidikan yang diikuti. Baik di sekolah penerbang, Sekkau, Seskoau, Sesko TNI. Sehingga mengantarkan berapa jabatan strategis diraihnya sebelum dinobatkan menjadi KSAU.  Jabatan yang telah diembanya meliputi  Atase Pertahanan RI di Kedubes RI Washington DC, Amerika Serikat, Komandan Lanud Iswahjudi, Pangkoopsau I, Pangkohanudnas, Wakil KSAU dan KSAU.  

Segudang prestasi telah ditorehkan marsekal Yuyu demi kemajuan TNI AU selama menjabat KSAU. Marsekal Yuyu berhasil menjaga predikat “zero accident” di lingkungan TNI AU, melanjutkan prestasi yang sudah dibuat rekannya Marsekal Hadi Tjahjanto. Dia juga membuat trobosan baru dengan melantik Letda Pnb Ajeng Tresna Dwi Wijayanti, S Tr (Han) sebagai satu-satunya penerbang tempur perempuan pertama dalam sejarah TNI AU.  Ini menjadi kado terindah dalam mengakhiri masa jabatanya.

Selain itu Yuyu pun melanjutkan program revitalisasi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) di  Lanud Adisucipto, Jogjakarta. 

Dalam bidang pemeliharaan, Yuyu berkolaborasi strategis dengan Komandan Koharmatau Marsda TNI Dento Priyono yang juga rekannya sesama alumni AAU 86, Marsekal Yuyu mengawal begitu banyak program inovasi dan kreatif di jajaran Koharmatau. Salah satunya mendorong Koharmatau untuk berhasil menghidupkan kembali mesin buatan Latacore, Perancis setelah mati suri sejak sejak 2007. 

Kepiawaian Yuyu dalam berkomunikasi selama menjadi KSAU, dengan fasih membeberkan rencana pembangunan kekuatan TNI AU secara lengkap dan detil. Pejabat yang dikenal dekat dengan para jurnalis tersebut dinilai luwes dan fleksibel serta kemampuanya  dalam menjawab berbagai persoalan terkait TNI AU.

Beberapa rencana jangka panjang soal pembangunan kekuatan, Marsekal Yuyu juga berencana membangun Mako Koopsau III di Biak beserta satuan di bawahnya, yang meliputi Skadron Udara 33 Hercules di Makassar, Skadron Udara 27 di Biak, Skadron Udara 9 helikopter di Papua serta pembentukan Lanud TNI AU di Wamena dan Saumlaki.  Selain itu juga tidak menepis rencana pemerintah membentuk skadron pesawat tanpa awak (UAV) di Timika dan Natuna. 

Yuyu mengatakan, TNI AU akan meningkatkan kekuatan dan kemampuannya dengan membeli berbagai alutsista baru seperti pesawat tempur, pesawat angkut, AWACS, tanker, amfibi, heli, dan UAV.

Dari pernikahannya dengan Ayuning Dewanti, Yuyu dikaruniai tiga anak yaitu Nadya Afiefa Putri, Ipda Hafiz Prasetia Akbar, dan Annisa Elysia Pramesti.  Salah satu putrinya menikah dengan Kapten Pnb Windi Darmawan yang merupakan penerbang F-16 Fighting Falcon. (sky/tif)