RADAR JOGJA – Ketua PHRI DIJ Deddy Pranowo Eryono teliti menyikapi konsep new normal. Walau diakui olehnya menjadi solusi bisnis wisata tapi juga memiliki faktor risiko tinggi. Pihaknya tengah menyiapkan sejumlah kebijakan yang berlaku baku di hotel dan restoran di Jogjakarta.

Menurutnya, kunci utama beroperasinya kembali hotel dan restoran adalah penerapan protokol Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Dia meminta manajemen hotel dan restoran bertindak tegas. Tak hanya kepada tamu tapi juga sumber daya manusia (SDM) penunjangnya.

“Tetap sesuai protokol Covid-19, jangan jadi klaster baru. Kita jangan main-main dengan wabah ini, mindset harus berubah, SOP harus berubah, ada protokol ketat yang harus dipatuhi,” tegasnya, Rabu (20/5).

Manajemen hotel dan restoran diharapkan patuh akan protokol Covid-19. Bukan hanya sekadar demi menerima tamu tapi juga utamakan faktor kesehatan. Kaitannya adalah membangun brand image Jogjakarta yang aman dan sehat.

Dia meminta agar seluruh SDM dilatih. Ini karena operasional berubah drastis. Paling utama adalah wujud menjaga kesehatan. Terutama yang bersentuhan langsung dengan karyawan maupun tamu hotel dan restoran.

“Sebelum vaksin ditemukan, kita tentu akan hidup berdampingan dengan mereka (Covid-19). SDM harus diberi pengertian khusus tentang protokol Covid-19. Jangan sampai suda buka tapi sarana penunjang dan SDM belum siap. Ini malah bisa jadi bumerang,” katanya.

Untuk saat ini 20 hotel bintang dan non bintang telah siap menyambut new normal. Ada pula lima restoran yang siap beroperasi selama pandemi Covid-19. Seluruhnya telah melalui kajian kesiapan.

Persiapan yang dilakukan tak hanya sebatas tempat cuci tangan dan thermal scanner. Tapi juga sistem dan manajemen resiko yang berlaku selama Covid-19. Lagi-lagi disiplin dan kesadaran diri menjadi kunci utama menghadapi pandemi Covid-19.

Tak menutup kemungkinan pula tamu wajib membawa surat sehat dari dokter. Langkah ini sebagai wujud preventif dari sisi luar. Untuk menjamin keamanan dan kesehatan karyawan maupun tamu dan pengunjung lainnya.

“Kalaupun sudah buka kami tak berani operasional penuh. Kami ingin bertahan dengan SDM dan biaya operasional yang terbatas. Misal dari total 40 kamar, yang operasional hanya 10 sampai 17 kamar,” ujarnya. (dwi/tif)