RADAR JOGJA – Akumulasi pasien Covid-19 di DIJ genap berjumlah 200 kasus. Ini menyusul penambahan satu kasus Senin (18/5). Data terbaru juga menunjukkan adanya kesembuhan pada lima pasien positif korona.

Juru Bicara Pemprov DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menjelaskan, penambahan disebut kasus 202. Yakni perempuan 30 tahun warga Sleman. “Pasien memiliki riwayat berpergian ke Wonosari dan kontak dengan tamu dari Jakarta,” katanya.

Berty juga melaporkan pada lima kasus positif. Yakni kasus 108, perempuan 48 tahun warga Gunungkidul; kasus 120, perempuan 54 tahun warga Kota Jogja; kasus 122, laki-laki 44 tahun warga Kota Jogja; kasus 123, perempuan 63 tahun warga Kota Jogja; dan kasus 177, laki-laki 14 tahun warga Sleman. “Sehingga total pasien sembuh saat ini menjadi 90 kasus,” tuturnya.

Adapun sebanyak dua pasien dalam pengawasan (PDP) dilaporkan meninggal. Seluruhnya telah menjalani uji swab namun masih menunggu hasil dari laboratorium. Yakni perempuan 65 tahun warga Bantul dan perempuan 54 tahun warga Sleman. “Pasien memiliki penyakit penyerta sakit jantung dan gagal ginjal,” jelasnya. Sehingga PDP yang dilaporkan meninggal saat ini menjadi 23 orang.

Di sisi lain, untuk memutus rantai penularan Covid-19, Pemprov DIJ belum memberlakukan sanksi bagi masyarakat yang melakukan pelanggaran protokol kesehatan. Misalnya untuk masyarakat yang tak mengenakan masker dan tidak menerapkan prinsip pembatasan fisik.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X menjelaskan, upaya mendisiplinkan masyarakat sangat dipengaruhi kesadaran diri warga. Sejauh ini pemprov masih sebatas memberi imbauan untuk mendisiplinkan masyarakat dan memutus rantai penularan.

“Biarpun di jalan ada kerumunan dan kami bubarkan, tapi kalau masyarakat tidak tumbuh rasa kesadaran untuk menumbuhkan kesadaraannya, akan susah. Yang PSBB kendalanya juga sama, mendisiplinkan juga,” katanya di Gedhong Pracimasono, kemarin (18/5).

HB X mengaku kesulitan untuk menindak para pelanggar karena DIJ belum menerapkan PSBB, sehingga sanksi yang diterapkan baru sebatas sanksi sosial. “Kami tidak ingin masyarakat jadi korban dari kebijakan, tapi bagaimana masyarakat menjadi subjek dalam berproses untuk menghentikan Covid-19. Jangan anggap kebijakan membelenggu seseorang,” ucapnya.

Gubernur lantas mengimbau pada warga usia muda untuk lebih waspada. Pasalnya, anak muda memiliki imunitas yang lebih baik dibandingkan orang berusia lanjut. Sehingga dikhawatirkan akan membuat mereka kurang waspada.

“Saya khawatir memberikan keyakinan dalam anak muda, walau saya (anak muda) sehat, kenapa saya harus takut. Kalau ada kesengajaan (melanggar protokol kesehatan) bagi saya kurang bagus,” jelasnya.

Lebih jauh HB X mengimbau agar masyarakat muslim menjalankan ibadah salat Id di rumah masing-masing. “Tidak perlu di masjid dan lapangan. Salat yang sifatnya wajib juga dilakukan di rumah,” tuturnya.

Sementara itu, Gugus Tugas Pengendalian dan Percepatan Covid-19 Kabupaten Gunungkidul terus berupaya memutus mata rantai penularan virus korona. Ribuan warga telah menjalani rapid test masal. Bagi yang reaktif, disediakan lokasi karantina Hutan Wanagama, Playen.

Tempat karantina berada di hutan penelitian Wanagama, tepatnya di Desa Banaran, Playen. Lokasinya di tengah hutan sehingga jauh dari pemukiman warga. Memanfaatkan wisma yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta sejak 1964, memiliki sejumlah kamar atau paviliun.

Kepala Pelaksana Gugus Tugas Pengendalian dan Percepatan Covid-19 Kabupaten Gunungkidul Immawan Wahyudi mengatakan, Wisma Wanagama milik Fakultas Kehutanan UGM ini bisa menampung kapsitas maksimal 90 orang.

“Wanagama diperbolehkan untuk menampung rapid test reaktif, dan tempatnya juga representatif,” kata Immawan Wahyudi saat melakukan pengecekan kesiapan lokasi karantina di tengah hutan itu kemarin (18/5).

Dia menjelaskan, wisma bakal dihuni tenaga medis dan warga yang setelah pemeriksaan rapid test dinyatakan reaktif. Penggunaan wisma telah mendapatkan persetujuan dari UGM. Berada di tengah hutan, suasana tenang, ada fasiltas olah raga, dan berjemur.

“Suasana tenang diperlukan untuk menambah daya tahan tubuh. Wisma ini jauh dari pemukiman, di tengah hutan dan terpenting masyarakat di sini pun menerima,” ujarnya.

Disinggung menganai sarana dan prasarana (sarpras) wisma, tersedia kamar mandi dan pendingin ruangan. Jarak antartempat tidur disetel berjauhan. Termasuk menyiapkan tenaga medis limbah medis hingga permakanan.

“Kami juga  melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pusat latihan tempur di Paliyan terkait lokasi karantina. Puslatpor Paliyan bisa menampung 45-50 orang,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawati menambahkan, pihaknya melakukan rapid test masal sejak 12 Mei lalu. Memeriksa sebanyak 1.163 orang dan yang reaktif ada 66 orang. Warga reaktif termasuk 30 tenaga medis. “Dari pemeriksaan swab 30 tenaga medis 9 dinyatakan negatif, dan 21 menunggu hasil,” katanya.

Untuk diketahui, Gunungkidul memiliki dua rumah sakit rujukan Covid-19 yakni RSUD Wonosari dan RS Panti Rahayu. Sembari menunggu izin RS keluar, RSUD Saptosari dipersiapkan menangani pasien positif dengan gejala ringan.

Dari data Dinkes Kabupaten Gunungkidul akhir pekan kemarin terdapat 150 orang tanpa gejala (OTG) reaktif rapid test. Jumlah itu merupakan angka kumulatif. (tor/gun/laz)

Wanagama jadi Lokasi Karantina Pasien Reaktif Rapid Tes