RADAR JOGJA – PSIM Jogja tengah dilirik para investor. Kurang dari dua tahun dikelola pengusaha asal Semarang Bambang Susanto, kini Chief Executive Officer (CEO) PSM Makassar Munafri Arifuddin menyatakan minatnya menjadi bagian dari PSIM.

Pria yang akrab disapa Appi itu mengaku, memiliki keinginan untuk menjadi CEO tim berjuluk Laskar Mataram itu. Alasannya, kata Appi, PSIM memiliki potensi yang bagus. Terutama dari fanatisme suporternya yang dinilainya luar biasa.

Sebagaimana diketahui, salah seorang pebisnis ulung di Indonesia itu saat menjabat sebagai CEO salah satu klub elite Liga 1 2020, PSM Makassar. Appi telah menjalankan posisi tersebut sejak 2016 silam. Menggantikan peran Rully Habibie, keponakan Presiden Republik Indonesia ketiga, Alm. BJ Habibie.

Menurut Appi, PSIM Jogja dan PSM Makassar memiliki latar belakang yang mirip. Kedua tim itu sama-sama merupakan tim lawas dengan segudang sejarah. “Kalau bisa memilih saya ingin ke PSIM, karena luar biasa juga fanatisme sepakbolanya di sana, atmosfernya hampir sama dengan PSM,” ungkap Munafri, Minggu (17/5).

Hubungan PSIM dan PSM sudah terjalin musim lalu. Dengan peminjaman dua pemain PSM, Hendra Wijaya dan Sadli di paro kedua kompetisi musim lalu. PSM Makassar di bawah pengelolaan Appi sendiri berhasil menorehkan prestasi yang lumayan bagus dalam beberapa musim terakhir. Selain konsisten berada di papan atas Liga 1, klub berjuluk Juku Eja itu juga berhasil menjadi jawara Piala Indonesia musim lalu. Keberhasilan itu mengantar PSM berlaga di ajang Piala AFC pada musim ini.

Di sisi lain, PSIM sendiri kini ada di bawah pimpinan Bambang Susanto sejak musim 2019 lalu. Menjabat sebagai CEO, pengusaha asal Semarang itu dinilai sudah mulai membawa perubahan yang baik di tubuh PSIM Jogja, terutama dari sisi pengelolaan finansial klub. Namun, untuk segi prestasi tim para pendemen PSIM masih harus bersabar. Musim ini optimisme kembali tumbuh seiring hadirnya Seto Nurdiyantara di kursi pelatih. Sayang kiprahnya baru sebatas satu pertandingan, karena kompetisi dihentikan selama pandemi korona. (kur/pra)