RADAR JOGJA –  Pemerintah Kabupaten Sleman terus mengevaluasi penerapan belanja online bagi pedagang pasar tradisional. Salah satu skema adalah memanfaatkan aplikasi WhatsApp yang terintegrasi kepada kelompok kecil pedagang. Sistem ini berlaku sejak pandemi Corona Virus Disesase 2019 (Covid-19).

Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Haris Martapa mengakui pedagang masih belajar. Terutama para pedagang yang telah berusia lanjut. Kendalanya adalah pemanfaatan gawai sebagai aplikasi pembantu.

“Belanja online ini sudah berlangsung dan sebagai solusi selama pandemi Covid-19. Bisa dibilang lancar tapi memang ada beberapa pedagang yang belum lancar, karena kaitannya penggunaan handphone maupun aplikasi WhatsApp,” jelasnya, ditemui di Kantor PMI DIJ, Senin (18/5).

Lahirnya kebijakan ini guna menguatkan protokol kesehatan. Mulai dari penggunaan masker, physical distancing dan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Berlaku ketat bagi penjual dan pembeli selama proses transaksi di pasar tradisional.

Terkait mekanisme aplikasi, pihaknya telah memberikan solusi berupa pengelompokan pedagang dalam kelompok kecil. Beranggotakan empat hingga limabelas pedagang, proses transaksi dikoordinir untuk memudahkan pemesanan.

“Ini juga sudah bekerja sama dengan sejumlah aplikasi. Seperti Grab dan Gojek untuk mengantar barang belanjanya. Saat ini sudah 26 pasar tradisional dari total 42 pasar tradisional yang memanfaatkan sistem ini,” katanya.

Salah satu aplikasi yang turut terlibat dalam penyaluran bahan pokok adalah Aplikasi Super. Tak hanya penyaluran bahan pokok, tapi juga wujud bantuan kepada yang membutuhkan. Seluruhnya tersalurkan melalui situs www.sembakountuksedulur.com.

Aplikasi Super sendiri adalah aplikasi social commerce yang menjual produk sembako dengan harga terjangkau. Tujuannya untuk mengefisienkan rantai pasokan kebutuhan pokok. Juga memberi kesetaraan distribusi dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Kami ingin membantu warga yang terdampak seperti PKL. Penghasilan mereka turun drastis. Bahkan untuk membeli sembako saja mereka kesulitan,” ujar Head of Retail and Marketing Aplikasi Super, Aimi.

Donatur, lanjutnya, bisa memilih untuk berdonasi dalam bentuk paket sembako senilai Rp 100 ribu maupun uang tunai. Paket sembako yang dibagikan berupa 5 kilogram beras, 1 liter minyak goreng, lima bungkus mie instan dan 10 sachet kopi instan. 

Pandemi Covid-19 turut menjadi catatan bagi penggunanya. Mampu meminimalisir pertemuan fisik antara penjual dan pembeli. Sehingga mampu memutus mata rantai persebaran Covid-19.

 “Tidak perlu menghubungi banyak sales atau repot pergi ke grosir untuk kulakan barang. Bisa berbelanja berbagai macam barang kebutuhan pokok tanpa harus keluar rumah,” katanya. (dwi/tif)