RADAR JOGJA – Gugus Tugas Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Kabupaten Sleman menyiapkan skema khusus terkait kemungkinan lonjakan pasien di wilayahnya. Langkah ini guna menyusul rapid diagnose test (RDT) massal di Kabupaten Sleman. Berupa screening atas kasus klaster Indogrosir Mlati.

Bupati Sleman Sri Purnomo menuturkan skema 10 persen dari total peserta RDT. Skema ini sebagai wujud preventif apabila muncul kasus positif pasca rapid tes. Acuannya adalah presentase 20 persen apabila RDT kepada kontak erat.

“Kalau berdasarkan data terakhir jumlah yang mendaftar sekitar 1.422 warga. Untuk estimasi ambil saja 10 persen dari jumlah itu reaktif. Inilah yang harus disiapkan sebagai tindakan setelahnya,” jelasnya ditemui di GOR Pangukan Sleman, Selasa (12/5).

Persiapan terkait ketersediaan ruang isolasi bagi pasien reaktif, untuk saat ini Pemkab Sleman telah menyiagakan Asrama Haji Mlati. Total ada 158 kamar yang bisa dimanfaatkan sebagai kamar isolasi bagi pasien reaktif.
SP, sapaannya, menegaskan pasca hasil reaktif ada skema baku. Warga wajib menjalani isolasi ditempat yang telah disediakan. Langkah ini guna mengantisipasi persebaran Covid-19 di lingkungan keluarga dan sekitar rumah.

“Nanti Gugus Tugas Covid-19 Sleman akan jemput bola ke alamat masing-masing dan bawa ke asrama haji apabila reaktif. Kami isolasi dengan pengawasan dari Dinkes Sleman. Lalu hari berikutnya lanjut uji swab,” katanya.

Bagi warga yang tidak reaktif bukan berarti bisa bebas beraktivitas. SP meminta agar warga menerapkan isolasi mandiri. Rentang waktunya adalah 14 hari kedepan. Hingga akhirnya mengikuti RDT massal tahap kedua.
Isolasi mandiri tak ubahnya tetap dengan protokol Covid-19. Warga diwajibkan menggunakan masker selama di rumah. Lalu menjaga jaga dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Untuk RDT massal kedua, pihaknya merencanakan pekan depan. Rentang waktunya adalah 7 hingga 10 hari dari RDT massal kedua. Langkah ini guna memastikan bahwa hasil RDT warga sepenuhnya non reaktif.

“Gelombang kedua setelah ini tetap rapid tes lagi, rencana tanggal 19 Mei. Seminggu lagi untuk pastikan negatif atau tidak. Kalau ketemu reaktif maka masuk prosedur berikutnya,” ujarnya.

Ratusan orang mulai mengantri rapid diagnose test (RDT) massal di GOR Pangukan Tridadi Sleman sejak Selasa pagi (12/5). Antrian menerapkan physical distancing sejak dari luar gedung. Sementara di dalam gedung seluruh personel mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menegaskan protokol Covid-19 berlaku ketat selama RDT massal. Warga yang datang wajib mengenakan masker dan jaga jarak. Aturan ini berlaku selama penyelenggaraan RDT massal hingga Kamis (14/5).

“Ini tindak lanjut dari temuan kasus positif di supermarket (Indogrosir). Dari 344 karyawan muncul 60 reaktif. Sementara ini 12 positif Covid-19 dan satu negatif,” jelasnya.

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini juga tengah menyiapkan ruang isolasi. Diketahui dari total ruang isolasi di Sleman, masih kuota 30 persen. Sementara untuk total keseluruhan ruang isolasi mencapai 110 tempat tidur. Jumlah ini belum termasuk 108 tempat tidur milik RSUP Sardjito.
Asrama Haji Mlati disiapkan sebagai tampungan isolasi reaktif RDT klaster Indogrosir. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas kamar mencapai 158 ruangan. Skenario ini guna fungsi ruang isolasi bagi pasien positif Covid-19.

“Sekarang kami tata, adanya asrama haji semacam rumah sakit darurat. Semua reaktif (klaster Indogrosir) kami tampung di asrama haji. Untuk mengurangi beban rumah sakit. Meski demikian tetap koordinasi dengan RSUP Sardjito. Untuk positif ringan dan sedang (Covid-19) tetap disana,” katanya. (dwi/tif)