DI TENGAH pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh Coronavirus Disease ini membuat kita sadar bahwa banyak sesuatu yang harus tertunda untuk dilakukan dan sesuatu yang harus terhenti untuk dijalankan, salah satunya adalah dalam aspek pendidikan. Kegiatan belajar mengajar baik dalam pendidikan formal maupun non-formal sempat terhenti karena pandemi yang menyebabkan seluruh elemen masyarakat wajib berdiam diri di rumah untuk berkontribusi dalam menekan angka penyebaran virus ini.

Bahkan, proses dalam mendapatkan pendidikan dengan cara yang seharusnya pun sempat mengalami masa abu-abunya karena diperlukannya pembuatan strategi baru yang mendadak agar aspek pendidikan tetap dapat ber-adaptasi pada situasi seperti ini. Harapan dari adanya strategi ini adalah agar pendidikan yang harus disalurkan tetap berjalan dan sampai kepada yang wajib menerimanya.

Terwujudnya pendidikan yang berkualitas di masa sulit seperti ini membutuhan dukungan dari berbagai elemen dan stakeholder terkait yaitu guru, dosen, orang tua, dan yang paling utama adalah Kemendikbud. Berkaitan dengan hal itu, salah satu program belajar dari rumah melalui tayangan televisi pada saluran Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang disusun oleh Nadiem Makarim selaku Kemendikbud adalah hal yang baik dilakukan.

Tujuan program ini tertulis pada layar televisi sebelum tayangan dimulai yaitu untuk memberikan alternatif/pilihan aktivitas belajar dalam kondisi darurat untuk mendorong pembelajaran bermakna. Namun ada satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa program ini tidak ditujukan untuk mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi menekankan pada kompetensi literasi dan numerasi.

Dalam program Kemendikbud yang telah dijelaskan diatas, tayangan yang diberikan pada anak usia dini adalah jalan sesama (sesame street). Program ini ditayangkan pada pukul 08.00 – 08.30 setiap hari Senin – Jumat. Jalan sesama adalah tayangan yang menampilkan boneka-boneka lucu sebagai pemeran utamanya yaitu Jabrik, Momon, Putri, Tantan. Mereka mengenalkan literasi, numerasi, dan emosi dan menampilkan tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang kita ketahui, anak lebih mudah menyerap ilmu yang diberikan dengan bantuan boneka karena berwarna dan dapat bergerak, boneka dapat mengalihkan perhatian mereka agar fokus kepada apa yang akan dilakukan boneka tersebut.

Dalam salah satu segmennya, Tantan (seekor orang utan betina) bersama dengan Pak Dalang berdongeng dengan menggunakan media wayang. Dongeng tersebut berjudul “Teman-teman yang saling membantu”.

Diceritakan seorang orang utan kecil yang hidup kesepian, lalu suatu hari ia menemukan sebuah peta yang akan membawanya ke suatu tempat yang ramai, dalam perjalanannya orang utan kecil dibantu oleh angsa dan buaya hingga sampai ke tempat tujuan.

Dongeng adalah sebuah komponen pendidikan yang akan membantu perkembangan bahasa dan literasi seorang anak. Bahasa pada anak usia dini berkembang secara bertahap dari menangis hingga anak dapat mengucapkan berbagai kata untuk berkomunikasi. Setelah mendengarkan dongeng, anak akan mendapatkan kosa kota baru yang akan meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan menulis. Selanjutnya anak pun juga akan mendapatkan informasi baru dari dongeng yang diceritakan sehingga anak akan berpikir lebih kritis tentang apa saja yang terjadi dalam dongeng. Anak juga belajar mengenali sudut pandang baru, hal ini tercermin dari tokoh buaya yang dikenal garang; jahat; menyeramkan bersedia membantu Tantan yang kesusahan. Dalam hal ini, orang tua dapat memfasilitasi perkembangan bahasan anak dengan memberikan pertanyaan terbuka terkait dongeng yang disajikan dan sabar mendengarkan jawaban anak (Naomi Baron, 1992). Selain kemampuan bahasa, literasi pada anak juga dapat diasah melalui dongeng.

Menurut Permatasari, N. dkk (2017), literasi adalah kemampuan seorang anak dalam mengidentifikasi, memahami, mengkritisi, dan menciptakan sesuatu melalui tulisan dan bacaan. Menurut Anindyarini (2009), terdapat 5 jenis literasi yaitu literasi dasar (kegiatan membaca; menulis; berhitung), literasi perpustakaan (penggunaan alat dan referensi yang bersumber dari perpustakaan), literasi teknologi (penggunaan teknologi terkini untuk menunjang literasi), literasi media (menggunakan media sebagai alat promosi untuk menunjang literasi), dan literasi visual (kemampuan untuk mengapresiasi design grafis dan teks visual).

Selanjutnya, di salah satu segmen Jalan Sesama yang lain sedang terjadi hujan lebat di Jalan Sesama. Saat itu, Putri dan Jabrik sedang berada di dalam rumah. Mereka terjebak di dalam rumah dan tidak dapat bermain bersama teman-teman di luar rumah. Petir menyerang dan terjadi mati listrik, Putri dan Jabrik yang bersembunyi di bawah selimut ketakutan karena gelap. Namun mereka akhirnya menemukan cara agar tidak takut di saat gelap, hujan, dan terdapat petir. Cara yang mereka lakukan adalah dengan berpelukan sebagai tanda melindungi satu sama lain, setelah itu mereka bernyanyi di tengah kegelapan untuk menghilangkan rasa ketakutan itu.

Berkaitan dengan hal itu, segmen ini mengajarkan anak tentang emosi dan bagaimana cara mengatur emosi secara baik dan benar. Emosi adalah perasaan atau afeksi yang muncul saat seseorang berada dalam suatu keadaan atau saat seseorang sedang berinteraksi dengan sesuatu yang dianggap penting. Emosi yang dimiliki diinterpretasikan melalui perilaku yang mewakili/ekspresi yang menunjukkan kenyamanan atau ketidaknyamanan dari keadaan yang sedang dialami. Perasaan takut adalah sebuah emosi primer yang pasti dimiliki setiap individu, emosi ini bersifat alamiah tetapi bersifat emosi negatif.

Perlakuan diri sendiri pada emosi yang negative membutuhkan pembelajaran. Pada dasarnya sangat susah untuk individu memberikan reaksi yang positif pada emosi negatif, namun Putri dan Jabrik mengajarkan anak untuk mengolah emosi negatif (takut pada kegelapan) menjadi sesuatu yang positif (berpelukan dan bernyanyi bersama untuk menghilangkan ketakutan). Di rentang umur 2 tahun – 4 tahun anak mulai mengerti istilah-istilah berdasarkan emosi yang ia rasakan, anak diharapkan mampu mengenali emosi diri sendiri dan orang lain secara tepat. Emosi memegang peran penting dalam kesuksesan hubungan anak dengan teman sebayanya, hal ini tercermin dari perilaku Jabrik yang menenangkan Putri dan akhirnya Jabrik memutuskan untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan guna menghilangkan rasa takut dengan menyanyi.

Dalam beberapa tayangan yang ditampilkan di Jalan Sesama dibutuhkan peran orang tua untuk mendampingi anak dalam proses pembelajaran. Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kemampuan bahasa literasi anak dan kemampuan mengekpresikan emosi. Dua hal tersebut dapat ditingkatkan kualitasnya dengan bantuan tayangan Jalan Sesama. Selain itu, peran orang tua juga dibutuhkan dalam mendampingi anak mendapatkan pendidikan dari tayangan televisi. Program khusus Pendidikan Anak Usia Dini yang dinaungi oleh Kemendikbud dan dikemas dalam tayangan televisi di saluran TVRI setiap Senin – Jumat pukul 08.00 – 08.30 berkontribusi dalam pemberian pendidikan yang merata dan bermanfaat di masa pandemi ini. (ila)

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya.