KEMAJUAN teknologi yang berkembang pesat menuntut kewaspadaan yang lebih dalam mendidik anak-anak untuk menghadapinya. Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan mendidik anak sehingga dapat menyesuaikan dengan perkembangan di era digital. Kasus yang cukup sensitif mengenai perbedaaan pemahaman tentang perilaku manusia pada umumnya, salah satu contoh adalah transgender. Peran orang tua sangat diperlukan dalam mengawasi perilaku anak agar tidak terjerumus dalam kasus tersebut.Selain lingkungan keluarga melalui pola asuh yang mengandung  nilai-nilai positif kehidupan.

Informasi pada era digital yang dapat diakses semua kalangan tanpa membedakan usia diperlukan ada pengawasan secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi yang terjalin dalam lingkungan masyarakat  akan membentuk karakter anak dan mempengaruhi pola pikir anak. Pendidikan anak dimulai pada usia dini menjadi dasar dari perkembangan pada tahap selanjutnya. Dasar yang penting harus diimbangi dengan pengetahuan yang sesuai. Karena pendidikan dimulai dari lingkuangan keluarga, maka peran orang tua dituntun untuk memiliki pengetahuan tentang digital parenting secara mendasar dan menyeluruh.

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Menumbuhkan fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.

Riset banyak membuktikan bahwa anak-anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, full day school, boarding school bahkan pesantren, ada yang mengalami gangguan kejiwaan, kecemasan dan perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa kecenderungan tinggi memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat, tidak butuh laki², tidak struggle menjalani kehidupan dan sebagainya.

Pendidikan  fitrah seksualitas anak sejak dini dapat dilakukan melalui digital parenting, yang terdiri dari bonding time, fondasi agama, digital literacy dan role model. Bonding time merupakan istilah lain dari menjalin ikatan dengan cara meluangkan waktu meski hanya sedikit. Menjalin ikatan dengan keluarga dan lingkungan sekitar menjadi pengaruh yang mendasar kasih sayang dan komunikasi dalam hubungan. Penanaman sikap keterbuakan sejak dini akan mempermudah komunikasi dengan orang tua, sehingga pengawasan dilakukan berkala meskipun dengan waktu yang sedikit.

Fondasi agama wajib hukumnya diajarkan pada anak-anak sejak dini, tanggung jawab orang tua besar untuk mendidik anaknya sesuai dengan kaidah islam agar menjadi pribadi yang shaleh. Selain hal itu, terdapat digital literasi berkaitan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Sebagai lingkungan pertama pendidikan semestinya orang tua lebih menguasai teknologi tanpa berlebihan sehingga bisa menyediakan waktu bermain bersama di depan gadget maupun menjadi teman di akun medsos anak.

Orang tua berperan sebagai role model atau panutan anak-anak sehingga karakter yang dimilikinya akan ditiru mereka sesuai apa yang sudah dilakukan sehari-hari. Menurut Bandura dan Walters, seorang anak dapat melakukan suatu perilaku baru hanya dengan melihat orang lain melakukannya dan mendapatkan dorongan (Miller, 2011). Hal tersebut berarti semua perilaku orang tua selama dirumah harus sesuai dengan norma dan sikap yang baik sehingga yang dilihat anak akan baik juga.

Dengan digital parenting memungkinkan orang tua untuk melakukan pengawasan sesuai perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai moral yang penting. Menurut Gisella Tani P, MPsi seorang psikolog anak dan remaja penting bagi orang tua untuk memberikan pola pengasuhan yang sehat, memberikan kesempatan anak mengembangkan diri melalui kegiatan-kegiatan yang positif serta perlunya pengawasan semua pihak terhadap anak-anak di lingkungannya masing-masing. Sehingga menghidari adanya kasus pelecehan seksual dengan korban bahkan pelaku anak dibawah umur.

Munculnya berbagai masalah pelecehan seksual pada anak dibawah umur, mendorong kita untuk melakukan pencegahan dengan memberikan penyuluhan kepada orang tua tentang fitrah seksualitas. Baik dari lingkungan orang tua, maupun lingkungan sekolah. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan orang tua mampu mengarahkan anak agar menjadi lebih terbuka untuk menceritakan semua masalah dikehidupan sehari-hari. Anak-anak diharapkan akan mengatasi masalah yang terjadi secara bijak dengan bantuan orang disekitanya tanpa merasa sungkan untuk mengungkapkan pemikirannya. (*/ila)

*Penulis merupakan Dosen Pascasarjana, Magister Administrasi Rumah Sakit – UMY