RADAR JOGJA – Sejak masker medis sulit didapatkan di pasaran, masker kain menjadi pilihan sebagian masyarakat untuk melindungi diri dari virus Korona (Covid-19). Namun, seberapa efektif masker kain mencegah penularan Covid-19?

Dokter sekaligus Kepala Departemen Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Dr Bambang Udji Djoko Rianto menyatakan penggunaan masker kain kurang efektif dalam mencegah penularan Covid-19. Masker kain hanya bisa dipakai sebagai pilihan alternatif terakhir.

“Masker kain tidak dapat memproteksi masuknya partikel. Penetrasi masuk partikel, kalau pakai masker kain, 97 persen bisa tembus masker. Perlindungannya hanya 3 persen saja,” jelasnya.

dr Bambang menjelaskan mekanisme penularan virus antara lain melalui droplet (percikan air ludah) dan airbone (partikel kecil yang terbawa udara). Nah, masker kain tidak memiliki perlindungan layaknya masker medis yang terdiri dari tiga lapis. Yakni lapisan luar anti air untuk melindungi droplet, lapisan tengah sebagai filter kuman, dan lapisan dalam untuk menyerap cairan yang keluar dari mulut pemakai. Tingkat perlindungan masker bedah ini sekitar 56 persen bagi partikel droplet berukuran nanometer.

“Ketiganya tidak didapat dari masker kain biasa dan ini bahaya. Sebab, begitu virus nempel bisa menembus di sela pori-pori kain,” tutur dokter THT RSUP Dr Sardjito ini.

Sedangkan salah satu masker medis yang memiliki tingkat efektivitas pencegahan penularan terbaik adalah masker N95. Karena memiliki kerapatan yang lebih padat dibanding masker bedah dan masker kain. Masker jenis ini mempunyai proteksi yang baik untuk droplet maupun aerosol. Masker ini banyak digunakan tenaga kesehatan yang melakukan kontak langsung dengan pasien.

“Efektivitas pencegahan masker N95 ini paling baik, tetapi tidak disarankan untuk penggunaan sehari-hari bagi orang sehat karena bisa menyebabkan kesulitan nafas,” terang dr Bambang.

Dia juga menyampaikan penelitian yang membandingkan efektivitas pengunaan masker bedah dengan masker kain. Penelitian tersebut telah diterbitkan pada jurnal BMJ Open (2015) berjudul ‘A Cluster Randomise Trial of Cloth Masks Compared with Medical Masks in Healthcare Workers’. Penelitian dilakukan di Hanoi, Vietnam, pada 1.607 rumah sakit. Diketahui bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara penggunaan masker bedah dan masker kain dalam mencegah infeksi saluran pernafasan maupun infeksi virus.

”Hasilnya sangat luar biasa, ternyata orang yang pakai masker kain kemungkinan menderita infeksi saluran nafas dan infeksi virus 13 kali lebih besar dibandingkan dengan yang memakai masker bedah. Ini kan bahaya sekali,” paparnya.

Lebih lanjut dr Bambang mengatakan, virus Covid19 memiliki ukuran kecil 0,125 mikrometer atau 125 nanometer. Sedangkan, pada kain tidak memiliki kerapatan yang cukup dalam menyaring partikel sekecil itu.

Kendati demikian, jika ingin menggunakan masker kain untuk proteksi diri, dr Bambang menyarankan masyarakat untuk melapisinya. Misalnya masker kain dua lapis dengan tisu di tengahnya. Hal tersebut dilakukan agar meningkatkan perlindungan terhadap kemungkinan masuknya partikel ke dalam masker.

“Masker kain ini bisa menjadi pilhan terakhir jika ketersediaan masker bedah sangat sulit didapatkan,” ujarnya. (sky/tif)