RADAR JOGJA – Di tengah pendemi Covid-19, prospek bisnis Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani Gunungkidul diklaim masih bisa survive. Dari total lebih dari 47 ribu sambungan rumah tangga (SR), sebagian besar tidak mengajukan penundaan pembayaran rekening.

Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Gunungkidul Isnawan Fibrianto mengatakan sejak pandemi Covid-19, langsung melakukan pemetaan masalah, menyusun skenario terhadap sejumlah kemungkinan dan menentukan arah kebijakan.

“Sejauh ini ada 30 persen pelanggan mengajukan penundaan pembayaran rekening. Menurut saya ini masih normal jika dihadapkan dengan kondisi seperti sekarang,” ujarnya.

Apa ada rencana memberikan diskon bagi pelanggan? Kata Isnawan kondisi keuangan PDAM Tirta Handayani Gunungkidul berbeda jika dibanding dengan daerah lain. Misalnya, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, situasinya berbeda.

“Di Wonogiri pendapatan dari pembayaran rekening listrik bagus. Demikian dengan sistem pengangkatan air, berbeda dengan Gunungkidul. Wonogiri menggunakan grafitasi sehingga wajar jika bisa menggratiskan tagihan rekening,” ungkapnya.

Di Gunungkidul, pemasukan terbesar justru dari pendapatan lain-lain sehingga jika mengandalkan tagihan rekening tidak bisa jalan. Belum lagi biaya produksi cukup besar yang dikeluarkan setiap bulan. Mulai dari perbaikan hingga lainnya. “Untuk tagihan listrik PLN saja kami Rp 2 miliar,” ucapnya.

Terlepas dari itu, kemarin pihaknya menginisiasi program bantuan untuk kategori RT 1 dengan membagikan 270 paket sembako. Karyawan saweran dan diberikan kepada para pelanggan yang menbutukan.

Seorang pelanggan penerima bantuan paket sembako, Suwito mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diterima. Dia berharap waba virus korona segera pergi sehingga aktivitas kembali berjalan dengan normal. (gun/bah)