RADAR JOGJA – Sekelompok mahasiswa dari FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berhasil mengembangkan salep dari bahan kulit salak untuk mengatasi bau kaki. Mereka adalah Aditia Pramudia Sunandar dan Rahmanisa Laila Fitri dari Prodi Pendidikan Biologi serta Asmi Aris.

Aditia menjelaskan, kulit salak dipilih karena berpotensi sebagai antimikroba. Sebelumnya kulit salak jarang dimanfaatkan dan hanya dianggap sebagai limbah yang tidak terpakai lagi. Namun ketika diteliti, kulit salak mengandung senyawa yang dapat berguna sebagai antibakteri.

Dari hasil uji fitokimia menunjukkan, daging dan kulit buah salak mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan alkaloid. “Senyawa yang tidak terkandung pada kulit salak adalah saponin, steroid serta triterpenoid,” kata Aditya Senin (13/4).

Rahmanisa menambahkan, kulit buah salak berpotensi sebagai obat tradisional. Hal ini dikarenakan kandungan senyawa flavonoid yang dapat menurunkan kadar gula darah. Flavonoid juga dapat berperan sebagai antivirus, antibakteri, antiradang, dan antialergi.

Flavonoid menunjukkan toksisitas rendah pada mamalia, sehingga beberapa flavonoid digunakan sebagai obat bagi manusia. “Kulit buah salak dapat digunakan sebagai senyawa antibakteri karena mengandung flavonoid, tanani, dan alkaloid,” ungkapnya.

Asmi menambahkan, bahan yang digunakan untuk membuat lotion kulit salak, antara lain, kulit salak, etanol, nutrient agar (NA), aquades, kultur jamur trichophyton mentagophytes, sabouraud dextrose agar (SDA), NaOH 0,01 N, HCl 0,01 N, amoxicilyne 500 mg, Cloromphenicol 10%, n-heksana, setil alkohol, asam stearat, Butylated hydroxytoluene (BHT),Virgin Coconut Oil (VCO), Trietanolamin (TEA), alkohol, kertas payung, plastic wrap, alumunium foil, tissue, masker, dan Nipagin.

Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY untuk prosedur ekstraksi dan Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Pendidikan Biologi untuk pengujian penghambatan jamur trichophyton mentagrophytes. “Langkah pertama penelitian adalah mengesktraksi kulit salak, lalu pembuatan media, uji antifungi, delipidasi ekstrak menggunakan n-heksana dan formulasi sediaan lotion,” jelas Asmi.

Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan, penggunaan kulit salak yang mengandung flavonoid dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan jamur. Karena flavonoid membantu merusak spora-spora yang ada di jamur. Dalam lotion juga ada berbagai bahan, ada bahan yang berperan sebagai pelembab dan ada yang menyerap air.

Selain itu, lotion kulit salak juga mampu mencegah pertumbuhan bakteri Staphylococcus Epidermidis penyebab bau pada kaki. “Penggunaan bahan ini bertujuan agar kaki tetap lembab, tidak terlalu basah dan terlalu kering,” paparnya. (eno/laz)