RADAR JOGJA – Beban pemerintah sangat berat. Butuh anggaran besar untuk penanganan dampak pandemi virus korona (Covid-19). Khususnya menanggung biaya pemulihan kondisi sosial ekonomi masyarakat pasca pandemi.

Ketua DPRD Sleman Haris Sugiharta mengatakan, dalam situasi sekarang pemerintah tak mungkin menanggung sendirian beban tersebut. Bayangkan, untuk penanggulangan Covid-19 saja Pemerintah Kabupaten Sleman butuh sedikitnya Rp 105 miliar. Anggaran ini sebagian besar hanya untuk memberikan jatah hidup bagi ODP/PDP korona selama 6 bulan, pembelian alat pelindung diri (APD) medis, disinfektan, dan cadangan. “Anggaran untuk recovery dampak korona belum masuk di situ. Dananya belum ada,” ungkap Haris di sela kegiatan pembagian masker dan desinfeksi fasilitas umum bersama pengurus Ranting PDI Perjuangan Desa Banyurejo, Tempel kemarin (10/4).

Atas dasar hal itulah Haris mengajak seluruh elemen masyarakat bergotong royong. Membangun kemandirian sosial ekonomi. Mulai lingkungan terkecil masyarakat. Masyarakat dari kalangan ekonomi mampu bisa membantu warga miskin di sekeliling lingkungan tempat tinggal. Termasuk para pekerja yang kena imbas pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat korona. “Gerakkan solidaritas sosial dari tingkat RT sampai desa,” pintanya.

Lebih lanjut Haris menginstruksikan pengurus ranting membantu pemerintah desa. Untuk mendata warga terdampak pandemi korona.
Terkait banyaknya pemudik di Tempel, Haris mengimbau warga untuk menyambut dengan baik. Bukan malah menolak. Namun tetap dengan protokol pencegahan korona. Pemudik wajib menjalani isolasi mandiri selama 14 hari di rumah masing-masing. Jika rumah keluarga tak memenuhi syarat, kata Haris, Pemdes Banyurejo telah menyiapkan sarana untuk karantina. “Jangan sampai ada pemudik dikarantina di luar Banyurejo. Ini pentingnya komunikasi yang baik. Ciptakan kenyamanan bagi sesama,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Camat Tempel Wawan Widiantoro. Dia mengatakan, Tempel merupakan wilayah di Sleman dengan pendatang terbanyak asal daerah terjangkit korona. Kurang lebih ada 675 orang. Kendati demikian, sejauh ini Tempel menjadi wilayah paling sedikit ODP dan PDP korona. Dengan 50 ODP saja. “Sebelumnya ada tiga PDP korona. Tapi hasil tes mereka negatif semua,” ungkap Wawan.

Menurut Wawan, kondisi tersebut berkat kedisiplinan warga dalam menjalankan protap pencegahan korona. Patuh untuk tetap berada di rumah, rajin mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, dan selalu mengenakan masker saat bepergian.

Padahal, Tempel termasuk wilayah paling rawan risiko terdampak korona. Karena menjadi pintu masuk utama ke Sleman maupun Provinsi DIJ. Sehingga potensi persebaran korona tergolong tinggi. “Tapi, Tempel masih aman dari korona. Ini harus dijaga bersama dengan disiplin,” tuturnya.

Bagi para pendatang, Wawan mengimbau untuk segera melapor kepada ketua RT setempat. Dan dengan kesadaran sendiri melakukan isolasi mandiri, menjaga jarak antarsesama (physical distancing), serta membatasi interaksi dengan warga lain hingga masa isolasi berakhir dan dinyatakan negatif korona. “Asal semua warga kompak, dampak wabah korona pasti bisa dikendalikan,” ujar Wawan.

Sementara itu, Ketua Ranting PDI Perjuangan Banyurejo Anwar Buchori berkomitmen untuk terus berpartisipasi membantu pemerintah menangkal korona. Pun menjalankan instruksi untuk membantu warga miskin lewat gerakan solidaritas bersama.(yog)