RADAR JOGJA – Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan tutup mulai Rabu(8/4). Penutupan dilakukan menyusul penataan landfill atau lahan timbunan sampah. “Alat sebagian digunakan menata dermaga dan sebagian untuk landfill tidak memungkinkan,” ujar Kepala Balai Pengelola Sampah TPST Piyungan Fauzan Umar.

Sampah di TPST Piyungan sendiri sudah overload karena landfill lebih tinggi dari jalan. Hal ini menghambat truk sampah masuk ke dalam dermaga. Solusinya, sampah harus didorong ke tengah dan diratakan. “Agar truk bisa masuk, landfill yang sudah diratakan harus diurug dulu dengan tanah dan pasir, lalu dipadatkan,” jelasnya kemarin.

Pengelola TPST Piyungan hanya memiliki empat alat berat, terdiri atas tiga ekskavator dan satu buldozer. Saat ini hanya dua alat berat yang beroperasi,  satu ekskavator dan satu buldozer. “Karena keterbatasan alat, sering rusak, sehingga tidak bisa maksimal bekerja. Satu-satunya cara ya lockdown,” sebutnya.

TPST Piyungan masih beroperasi Selasa (7/4). Namun antrean mengular sampai 1,5 kilometer. Petugas tidak dapat melayani armada pembuangan sampah dengan maksimal, karena dermaga yang berfungsi hanya satu. Musim hujan membuat material sampah mengandung banyak air. “Jangankan truk, alat berat saja khawatir amblas,” cetusnya.

Fauzan menargetkan penataan sesegera mungkin selesai. Agar TPST Piyungan dapat kembali beroperasi. Sebab, permukaan dermaga swasta disebutnya labil. “Air dari atas pasti mengalir ke bawah kan, jadi nggak mungkin alat bekerja di situ, sangat rawan,”  tandasnya.

Atas situasi ini, petugas melakukan sosialisasi ke dinas lingkungan hidup kabupaten-kota yang membuang sampahnya ke TPST Piyungan. Mulai 1 Mei, hanya truk yang memiliki surat rekomendasi saja yang dapat membuang sampah ke TPST Piyungan.

Tidak semua truk memiliki dam atau dump truck, semacam pejungkit. Selama ini truk-truk itu dibantu oleh ekskavator untuk menurunkan sampah. Padahal pengadaan ekskavator bukan untuk itu. “Tapi kalau kami biarkan membuang manual, antrean semakin panjang karena lama menunggu,” keluh Fauzan.

Sementara itu, Ketua Komunitas Pemulung Mardiko sekaligus juru bicara warga sekitar TPST Piyungan menegaskan, penutupan TPST Piyungan bukan dilakukan oleh warga. Penutupan dilakukan oleh pengelola. Padahal, warga sudah tujuh bulan lalu menyampaikan keluhan. Hingga mendapat tinjauan dari dinas terkait Senin (6/4). “Senin ditinjau sudah terlambat, baru Rabu mulai ditutup,” tegasnya.

TPST Piyungan ditutup sejak Rabu pagi pukul 06.00. Maryono juga tidak dapat memastikan sampai kapan penutupan ini. Kegiatannya bersama pemulung lainnya saat ini terhambat. Mereka hanya mengandalkan sampah yang sudah dikumpulkan kemarin. “Mungkin bisa bertahan selama enam hari,”  katanya.

Tidak semua truk pengangkut sampah bisa membuang sampah di TPST Piyungan untuk beberapa bulan mendatang. Hanya ada dua kriteria truk yang boleh membongkar sampah. Yakni, truk mendapatkan rekomendasi dari pemerintah kabupaten atau kota dan dump truck (truk jungkit).

Pembatasan truk yang boleh membuang sampah itu disebabkan adanya perbaikan di TPST Piyungan. Proses perbaikan diperkirakan berlangsung antara tiga hingga empat bulan. Perbaikan juga berimbas pada ditutupnya salah satu zona pembuangan sampah.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, upaya perbaikan mencakup pembuatan jalan dan talut. Perbaikan sangat mendesak mengingat kondisi TPST Piyungan sudah kelebihan muatan.

Selama perbaikan, tegas Aji, TPST Piyungan tidak ditutup total. ”Bukan penutupan. Tapi, diatur supaya pelaksanaannya tidak terganggu oleh kedatangan truk (pengangkut sampah),” katanya.

Truk yang diizinkan membuang muatan adalah truk yang telah mendapatkan rekomendasi dari pemerintah kabupaten atau kota. ”Tidak semua alat angkut bisa masuk. Yang bisa masuk adalah alat angkut yang menggunakan dump truck,” jelasnya. Dump truck adalah truk jungkit yang muatannya dapat dikosongkan tanpa penanganan.

Aji menyebutkan, saat ini hanya ada satu zona yang dioperasikan untuk menampung dan mengolah sampah. Zona sisi bawah untuk sementara tak dioperasionalkan.  ”Sisi bawah lagi digarap, jadi buangnya di sisi atas. Kalau tidak menggunakan dump truck nanti macet di (sisi) atas,” imbuhnya.

Selama perbaikan sekitar tiga bulan, operasional TPST Piyungan diprediksi bakal terganggu. ”Sekarang yang berpoperasi yang di sisi atas. Karena kan  jalan dulu yang dibenahi. Jalan (baru) dibuat sejajar jalan yang sudah ada,” jelasnya.

 

Penutupan TPST Piyungan  berdampak pada pembuangan sampah di Kota Jogja. Dinas Lingkungan  Hidup (DLH) mengantisipasi penumpukan sampah di depo-depo selama TPST  ditutup.

Kepala DLH Kota Jogja Suyana meminta sampah-sampah rumah tangga di masyarakat disimpan lebih dulu selama penutupan TPST. Ini untuk mengantisipasi penumpukan sampah di depo hingga mengakibatkan sampah berserakan karena dampak penutupan.

“Masyarakat tahan dulu sampahnya. Besuk kami layani lagi, mudah-mudahan nggak sampai tiga hari,” kata Suyana saat dihubungi wartawan Rabu(8/4).

Ia juga mengimbau kepada petugas sampah gerobak khususnya, agar tidak dulu mengambil sampah-sampah di rumah warga, agar depo sampah tidak membeludak. Ini sebagai upaya agar peristiwa tahun lalu tidak terulang. Yaitu sampah-sampah membeludak di depo-depo dan berserakan di jalan akibat penutupan TPST Piyungan selama satu minggu. “Yang tahun lalu sampai seminggu numpuk, ini jangan sampai terulang lagi,” ujarnya.

Dia menyebut pihak pengelola akan menutup TPST selama tiga hari dengan pertimbangan adanya perbaikan. Namun Pemkot Jogja sedang berupaya untuk menawar agar penutupan tidak berlangsung lama. “Kami nego dulu, kalau bisa jangan sampai tiga hari,” jelasnya.

Sementara itu salah seorang pengurus depo sampah Mandala Krida Sarwanto mengatakan, dalam satu hari biasa membuang sampah ke TPST sedikitnya 5-6 truk kontainer dalam dua kali perjalanan. Dampak ditutupnya kemarin masih tersisa lima kontainer yang belum terbuang dan hanya terparkir. “Ini tadi baru satu truk yang ke sana, karena nggak bisa buang,” katanya.

Pihaknya hanya bisa menunggu sampai TPST dibuka kembali untuk bisa membuang sampah. Selama masih ditutup, dia memprediksi sampah akan menumpuk di depo untuk menunggu dibuang. “Ya, kami hanya menunggu kalau sana sudah buka ya buang. Pasti akan numpuk di sini,” ujarnya. (cr2/ tor/wia/amd/laz)