RADAR JOGJA – Gaung Gong dilakukan dari seluruh penjuru mata angin di DIJ oleh kelompok-kelompok karawitan yang berada di arah mata angina. Mereka menabuh gong bersamaan di tempatnya masing-masing dan satu gong ditabuh di Titik Nol KM, Minggu (5/4).

Ari Wulu dari Komunitas Gayam 16 mengatakan, Gaung Gong adalah respons masyarakat gamelan atas situasi sosial terkini. Secara budaya, masyarakat Jogjakarta adalah masyarakat yang guyub, sosial, dan ramah. Kondisi yang mengharuskan ada jarak di antara mereka menimbulkan ketegangan (shock) yang luar biasa.

Seperti di dalam gamelan. Gamelan lazimnya dibunyikan bersama-sama tanpa mengharuskan keseragaman yang kaku. Maka di setiap ketukan akhir sebuah gending tidak pernah ada keserentakan pukulan nada dalam gamelan. Semua berhenti sesuai dengan hasrat masing-masing. Berbeda dengan musik barat yang sangat patuh pada hitungan.

”Hal ini kemudian membuat kami berpikir untuk menjadikan gong sebagai pilihan dalam Gaung Gong ini, karena gong bisa dimainkan oleh satu orang saja,” jelasnya.

Selain itu, gong merupakan instrumen yang bersifat dapat didengar dan juga terasa bunyinya. Rasa inilah yang dipersembahkan sebagai sebuah kesadaran bahwa manusia dan alam mempunyai ikatan yang sangat kuat.

Dia menjelaskan, pada pukul 6.00 menabuh gong lima kali. Di Titik Nol KM dan empat penjuru arah mata angina. Ini menggambarkan Sedulur Papat Lima Pancer, dilambangkan dengan Pancaksara.

”Gong dibunyikan lima kali tepat pada pukul 6 pagi, sebagai penanda awal kelahiran dan hidupnya jiwa yang kembali mengenali jati diri, menuju bangkitnya kesadaran sejati,” tuturnya.

Kemudian pukul 18.00 menabuh gong sepuluh kali. Gong, Ong, atau Ongkara adalah simbol bhuwana alit dan bhuwana agung. Puncak perayaan dari penyatuan Dasaksara. Titik Nol KM sebagai pancer, dilambangkan dengan Dasaksara, gong dibunyikan 10 kali tepat pada pukul 18.00, pertemuan siang menuju malam, waktu potensial penyelarasan energi dalam diri untuk selaras dengan energi semesta.

”Tabuh gong di empat penjuru mata angin oleh 14 perwakilan kelompok karawitan dan pelaku budaya. Saat menabuh, juga dibacakan mantra Carakan Walik (kebalikan dari Hanacaraka) sebagai doa tolak bala. Sebagai penutup sambil dibacakan mantra Kalacakra untuk menunjukkan kesadaran manusia atas diri dan alamnya,” tutupnya. (ila)