RADAR JOGJA – Kasus positif Covid-19 di DIJ bertambah enam kasus. Seluruhnya merupakan imported case. Karena pasien memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah.

Kasus tambahan yang diumumkan Juru Bicara Pemprov untuk Penanganan Covid-19 di DIJ Berty Murtiningsih adalah kasus 20 perempuan, 70 tahun, warga Sleman; kasus 21 laki-laki, 56 tahun, warga Sleman; kasus 22 laki-laki, 37 tahun, warga Bantul; Kasus 23 laki-laki, 35 tahun, warga Sleman; kasus 24 perempuan, 80 tahun, warga Sleman; kasus 25 laki laki, 48 tahun, warga Kota Jogja.

“Kasus 24 telah meninggal dalam proses menunggu hasil lab. Namun sudah dilakukan prosesi pemakaman sesuai dengan protokol pemakaman pasien,” ujar Berty kepada wartawan Selasa (31/3).

Sebelumnya terdapat perbedaan data antara pemerintah pusat dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ. Pemerintah pusat mendata terdapat 22 pasien positif. Sementara pemprov mencatat ada 19 pasien positif. Setelah dikonfirmasi, pemprov sepakat untuk mengurangi jumlah pasien positif. “Ada satu kasus yang dipindahkan ke daerah asal (kasus 17) merupakan pasien asal Kebumen, Jawa Tengah,” jelasnya.

Dengan demikian, secara akumulatif terdapat 24 kasus positif di DIJ. Namun penyebutan kasus terakhir tetap kasus 25. Sebab penggantian kode kasus dapat menyulitkan upaya pencatatan. “Tidak mungkin mengganti kode kasus. Tapi kita beri keterangan,” jelasnya.

Berty menambahkan, terdapat satu pasien yang dirawat di RSUP Dr Sardjito telah dinyatakan sembuh. Yakni kasus 5, perempuan 30 tahun, asal Sleman. Dengan demikian, sejauh ini terdapat dua pasien yang dinyatakan sembuh. Sementara tiga pasien dilaporkan meninggal dunia.

Semua pemerintah kabupaten/kota diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Terutama untuk pelacakan kasus dan penyiapan sarana kesehatan. “Juga untuk tetap memberi edukasi masyarakat,” tuturnya.

Dua orang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) yang dirujuk dari RS Nur Hidayah di Bantul meninggal dunia di RSUP Dr Sardjito. Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan menjelaskan, kedua pasien itu yakni berusia 48 tahun yang meninggal Senin (30/3) pukul 21.55 dan satu pasien lainnya berusia 58 tahun meninggal Selasa (31/3) pukul 06.45.

Diketahui saat masuk RSUP Dr Sardjito, keduanya mengalami sesak napas dan pihak RS memasukkan kedua pasien dalam kategori PDP. Namun belum bisa dipastikan kedua pasien mengidap Covid-19 atau tidak, dikarenakan belum dilakukan tes swab tenggorok. “Karena semalam mengejar penanganan kegawatdaruratannya,” jelas Banu.

Untuk pemulasaran jenazah, Banu mengaku tetap menggunakan protokol Covid-19. Meskipun belum menyatakan hasil pemeriksaan Covid-19, kedua pasien dimasukkan kriteria PDP karwna gejala yang muncul. “Bahkan rukti jenazah menggunakan standar tertinggi penanganan Covid-19,” tambahnya.

Dua di antara tiga pasien PDP yang sempat dirawat di RS Nur Hidayah Bantul meninggal dunia di RSUP Sardjito juga disampaikan pemilik RS Nur Hidayah sekaligus Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Bantul Dokter Sagiran Selasa (31/3).

“Kami mendapat kabar pasien satu dan pasien tiga meninggal,”  ungkap Sagiran. Sementara pasien dua telah dirawat di RSUD Sleman. Pasien dua dirujuk dari RS Nur Hidayah Senin malam sekitar pukul 20.00.

Dokter Sagiran jelaskan, sebelumnya ketiga pasien itu sempat dirawat di RS Nur Hidayah. Mereka datang Senin pagi sekitar pukul 08.00 dalam kondisi kritis. Setelah dilakukan pemeriksaan dan dilakukan rontgen, ada indikasi gejala Covid-19.

Karena keterbatasan fasilitas kesehatan, pihaknya hendak merujuk ke RS penanganan Covid-19. Ketiganya sempat telantar di halaman parkir sembari menunggu RS yang bisa menampung dengan peralatan medis yang lengkap. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dan mencari RS rujukan, sehingga terjadi keterlambatan penanganan,” ucapnya.

Ketiga pasien itu mengeluhkan sesak napas dan demam, memiliki riwayat penyakit ISPA dan setelah dilakukan rontgen menunjukkan adanya pneumonia yang mengarah Covid-19.

Dari kasus itu pihaknya terus melakukan pengawasan dan antisipasi diri terhadap pasien yang melakukan pemeriksaan. Untuk mencegah penularan infeksi Covid-19, pihaknya mengimbau medis dan paramedis khususnya dokter mengenakan alat pelindung diri (APD) untuk penanganan pasien. “Sebab, pasien terinfeksi Covid-19 ini belum tentu memiliki gejala,” ungkapnya.

Pihaknya khawatir apabila tim medis melakukan perawatan tanpa menggunakan APD, juga akan terpapar.  Antisipasi lainnya  mendirikan ruang kedaruratan di halaman rumah sakit. Bagi pasien yang mengalami gejala mengarah ke korona, sementara akan dilakukan perawatan di ruang kedaruratan dengan daya tampung dua pasien.

Terkait keterlambatan penanganan pasien, Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul Helmi Jamharis menolak memberikan tanggapan. Menurutnya, pihak RS yang berhak memberikan jawaban. “Tentu yang berhak menanggapi di pihak RS,” ucapnya.

Kendati begitu, Pemkab Bantul sedang menyiapkan RS darurat Covid-19 memanfaatkan eks Puskesmas Bambanglipuro dengan daya tampung sekitar 100 pasien. Ini untuk kriteria pasien ringan Covid-19  (tor/eno/mel/laz)