PSIM Official for Radar Jogja

RADAR JOGJA – PSSI mengeluarkan keputusan kompetisi yang sudah berjalan yakni Liga 1 dan Liga 2 diperpanjang masa jedanya. Hal itu tak lepas dari status keadaan tertentu darurat bencana virus korona yang tengah melanda Indonesia.

PSSI menetapkan force majeure. Karena itu, klub peserta Shopee Liga 1 dan Liga 2 dapat melakukan perubahan kontrak kerja. Kontrak kerja itu meliputi klub dan pemain, pelatih serta ofisial atas kewajiban pembayaran gaji di Maret, April, Mei, Juni yang akan dibayarkan maksimal 25 persen dari kewajiban yang ada di kontrak kerja. “Apabila status keadaan tertentu darurat bencana tidak diperpanjang pemerintah, PSSI menginstruksikan PT LIB untuk dapat melanjutkan Liga 1 dan Liga 2 terhitung mulai 1 Juli,’’ kata Ketum PSSI Mochamad Iriawan.

Namun, apabila pemerintah memperpanjang status darurat bencana setelah 29 Mei dan PSSI memandang belum cukup ideal untuk melanjutkan kompetisi, ajang Liga 1 danLiga 2 musim ini akan dihentikan. Sementara hal-hal terkait teknis, termasuk penjadwalan, sistem dan format kompetisi, kewajiban klub pada pihak ketiga, promosi dan degradasi, akan diatur kemudian.

CEO PT PSIM Jaya Bambang Susanto belum mau banyak berbicara terkait keputusan PSSI tersebut. Menurut Bambang, pihaknya masih terus mempelajari situasi terkini. “Saat ini kami di PSIM sedang membicarakannya dan meminta arahan dari PSSI,” katanya ketika dihubungi Radar Jogja kemarin (28/3).

Hal serupa juga diungkapkan Manajer PSS Sleman Danilo Fernando. Eks playmaker Persik Kediri ini mengungkapkan pihaknya segera menggelar rapat untuk membahas keputusan dari PSSI tersebut. “Kami akan menggelar rapat dengan Pak Marco Garcia Paulo (CEO PSS). Termasuk kontrak dan gaji pemain,” ungkapDanilo.

Sementara itu, para pemain yang sejatinya tampil di kompetisi Liga 1 maupun Liga 2 di musim ini bisa memahami keputusan PSSI. Ivan Febrianto salah satunya. Kiper PSIM Jogja itu mengungkapkan situasi saat ini memang sangat riskan dan tidak mungkin untuk menggelar liga.

Mengenai kemungkinan gajinya yang hanya dibayar 25 persen saja, Ivan mengaku pasrah. Namun, dia tetap berharap gajinya bisa dibayar penuh. (kur/din)