RADAR JOGJA – Jumlah orang yang terjangkit virus korona di DIJ melonjak. Dari enam kasus, data terakhir menunjukkan ada 12 suspect Covid-19 yang dinyatakan positif. Dengan demikian total pasien dalam pengawasan (PDP) yang dinyatakan positif menjadi 18 orang.

Juru Bicara Pemprov DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih mengatakan, pasien kasus 7 hingga 18 seluruhnya mendapat perawatan di rumah sakit (RS) rujukan yang tersebar di DIJ. Dengan rincian lima pasien di RS Panti Rapih, satu pasien di RS Panembahan Senopati, satu pasien di RS JIH, satu pasien di RSUD Wates, satu pasien di RSUD Wonosari, dan satu pasien di RS Bhayangkara.

Pasien positif berjenis kelamin laki-laki usia 54 tahun warga Kebumen, Jawa Tengah, dilaporkan telah meninggal dunia di RS Panti Rapih. Adapun pasien laki-laki berusia 69 tahun yang sebelumnya diberitakan meninggal setelah mendapat perawatan di RS Bethesda, ternyata positif korona.

Dari data yang dibeberkan, virus yang awalnya dari Wuhan, Tiongkok, ini menyerang tidak memandang usia. Ada bayi berusia empat bulan yang dinyatakan positif (kasus 9). Si bayi mendapat perawatan di RSUD Wates. Adapun pasien paling tua tercatat berusia 71 tahun (kasus 14) dirawat di RS Panti Rapih. “Riwayat kontak bayi empat bulan adalah pulang dari Solo,” katanya.

Namun Berty belum menjelaskan, apakah ada kasus transmisi lokal di DIJ. Sehingga pemerintah provinsi belum mengumumkan adanya zona merah di DIJ maupun status kejadian luar biasa (KLB).

Berdasarkan laporan dari seluruh RS rujukan di DIJ, tercatat ada 115 PDP yang telah menjalani pengambilan sampel untuk tes lab. Dengan rincian, hasil negatif 33 orang, hasil positif 18, dan masih dalam proses 64 orang. “Yang sembuh masih satu orang dan meninggal kini tiga orang,” katanya.

Terkait adanya lonjakan jumlah kasus, diduga akibat tersendatnya proses tes spesimen di Laboratorium Balai Besar Teknologi Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jogjakarta. Seperti yang diberitakan sebelumnya, BBTKLPP sempat mengalami kekosongan primer yang menjadi salah satu bahan baku uji spesimen.

“Lonjakan angka hari ini merupakan akumulasi uji lab sebelumnya yang belum keluar,” ungkap Kepala Bagian Humas, Biro Umum Humas dan Protokol Setprov DIJ Ditya Nanaryo Aji.

Ditya lantas membandingkan lonjakan kasus korona di Provinsi Jawa Tengah. Di mana juga terjadi lonjakan sebanyak 19 kasus. “Jika dilihat dari jumlah lonjakan yang tinggi antara DIJ dan Jateng, dapat ditarik kesimpulan yang sama,” terangnya.

Sementara itu Kepala BBTKLPP Jogja Irene saat dikonformasi membenarkan bahwa hasil uji lab sebelumnya menumpuk karena kekosongan primer. “Itu tadi (kasus positif) pemeriksaan dari tanggal 18-21 Maret,” jelasnya.

Irene menganggap saat ini RS rujukan telah memiliki kemampuan yang kuat dalam mendiagnosa kasus awal. “Sehingga kasus yang masuk ke RS benar-benar kasus yang mengarah ke Covid-19,”  tambahnya.

Satu pasien PDP Covid-19 warga Gunungkidul diketahui meninggal dunia. Sementara satu PDP lainnya yang semula kondisi kesehatannya sempat membaik, ketika hasil medis keluar ternyata positif terinfeksi virus korona.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan, PDP dari wilayah Kecamatan Wonosari meninggal dunia saat menjalani perawatan di RS Panti Rapih, Kota Jogja. Pihaknya akan tracking kontak, kemudian upaya pencegahan penyebaran yang lebih luas.

“PDP yang dinyatakan positif sempat dirawat di RSUD Wonosari, namun menunjukkan kondisi yang bagus, sehingga diputuskan dilakukan isolasi mandiri. Namun baru saja kami terima informasi, ternyata positif korona,” kata Dewi Rabu (25/3).

Terkait satu pasien positif Covid-19, langsung disikapi dengan menggelar rapat bersama bupati terkait dalam pencegahan. Selain itu juga akan melakukan penelusuran terhadap warga yang melakukan kontak terhadap pasien ini.

Dinas kesehatan masih menunggu hasil sampel untuk tiga warga lainnya. Sampel guna memastikan apakah hasilnya positif tertular atau negatif. Total hingga Rabu (25/3) ada 293 ODP, delapan PDP dan satu pasien positif korona. “PDP yang dirawat di rumah sakit ada dua, dan ODP dirawat juga dua orang,” ungkapnya. (tor/gun/laz)