RADAR JOGJA – Kepala Bidang (Kabid) Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan, Disdikpora DIJ, Didik Wardaya mengatakan, jajarannya segera menerbitkan SE ke SMA di DIJ namun menunggu surat resmi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang pembatalan UNBK. Rencananya UNBK tingkat SMA akan diselenggarakan mulai 30 Maret  sampai 2 April.

Didik menegaskan Disdikpora DIJ akan mengikuti instruksi pemerintah pusat untuk meniadakan UNBK. Ke depan, Disdikpora DIJ akan melakukan koordinasi untuk membahas pengganti UNBK seusai pandemi Covid-19 mereda.”Kami menunggu surat dari Gubernur DIJ Sultan Hamengku Buwono X,’’ katanya.

Mengenai pengganti UNBK dengan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), katanya, Disdikpora DIJ masih memikirkan alternatif pengganti. Menurutnya, dengan ditiadakannya UNBK, murid yang akan mengikuti UNBK belajar di rumah. Sama dengan lainnya dimana pemda DIJ telah menerapkan belajar secara online sejak Senin (23/3). “Mereka tidak libur tapi belajar di rumah dan dipantau guru dari jarak jauh,” jelasnya.

Pembatalan UNBK juga berlaku di tingkat SD dan SMP. Untuk itu, Disdikpora di masing-masing kabupaten dan kota di DIJ akan menyesuaikan dengan instruksi pusat.

Waka Kesiswaan SMAN 1 Depok, Eko Yulianto menjelaskan, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) melalui online karena pandemi Covid-19 dirasa lancar. Hal ini karena guru menjadi fleksibel dalam pemanfaatan aplikasi atau media online dalam penyamapaian materi.

Eko menuturkan, lancarnya KBM online yang diterapkan bisa terlaksana jika guru tertib dalam melakukan tugasnya. Serta tidak adanya penundaan tugas yang dilakukan. Selain menggunakan Jogja Belajar, pihaknya juga menggunakan aplikasi google class room, CBT Sekolah maupun via aplikasi WhatsAap yang digunakan untuk publish informasi secara grup. “Jadwal mengajar kami sesuaikan, masalahnya hanya saat akses sinyal jelek,” kata Eko.

Dalam pemberian materi daring, tambah Eko, prosesnya sama saat guru memberikan pelajaran di kelas. Dengan memberikan contoh soal dan penyelesaiannya, dilanjutkan dengan pemberian tugas atau soal dengan durasi maksimal dua jam untuk setiap mata pelajaran.

Sedangkan untuk guru yang menggunakan Blog selama masa KBM online, tugas biasanya akan dikirim ke siswa melalaui email dan begitu juga sebaliknya. Selain itu, ada pula guru yang mengijinkan siswanya, untuk mengumpulkan tugas secara manual pada saat sekolah sudah aktif kembali. “Guru fleksibel dalam pemanfaatan media online,” tutur Eko.

Salah satu siswa SMAN 1 Ngaglik, Fafa mengaku KBM online menyenangkan karena tempat belajar yang ada di rumah pribadi. Meskipun demikian, Fafa merasa KBM online tidak cocok bagi siswa tingkat SD maupun SMP.

Fafa mengaku, selama ini tugas yang diberikan kepadanya dikirim melalui grup kelas. Tidak adanya penjelasan terlebih dahulu dari pihak guru, membuat Fafa diharuskan untuk belajar dan memahami materi sendiri. “Kalau tidak paham, tanya jawabnya sama teman. Karena beberapa guru, titip tugasnya ke wali kelas,” jelas Fafa.

Menurut Fafa, KBM online jika dilakukan secara terus-menerus akan membosankan. Tidak selalu baiknya sinyal jaringan untuk akses materi, juga membuat sistem KBM online menjadi terganggu. Jika hal ini terus-menerus dilakukan, Fafa khawatir akan menimbulkan sifat antisosial. (eno/din)