RADAR JOGJA – Meskipun bukan puncak musim hujan di Jogjakarta, intensitas curah hujan di Maret ini terbilang cukup tinggi. Kondisi tersebut yang kemudian mengakibatkan beberapa wilayah di Sleman menjadi titik genangan.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Reni Kraningtyas mengungkapkan, puncak musim hujan sebenarnya sudah terjadi pada periode Januari dan Februari kemarin. Namun dari pengamatannya, hingga Maret ini intensitas hujan masih terpantau cukup tinggi.

Reni menyatakan, hal tersebut disebabkan karena adanya pertemuan arus angin ( konvergensi, Red ) di sekitar wilayah DIJ  dan fenomena MJO ( Madden Julian Osilation ) atau pumpunan awan yang masuk ke wilayah samudera Indonesia. Sehingga mengakibatkan, hampir seluruh wilayah DIJ berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Kondisi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat ini diperkirakan bisa terjadi hingga April mendatang. Selanjutnya akan masuk musim kemarau pada awal Mei nanti. “Hujan juga dapat disertai angin kencang & petir pada siang, sore dan malam hari. Bisa sampai beberapa hari ke depan,” ujar Reni dikonfirmasi Senin (23/3).

Datangnya musim hujan membuat beberapa wilayah di Sleman menjadi titik genangan. Kondisi ini berdampak cukup besar terhadap kerusakan infrastruktur. Khusunya jalan.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman Achmad Subhan mengatakan, selama musim hujan ini setidaknya ada tiga wilayah yang menjadi langganan jalan rusak saat musim hujan. Di antaranya, Kecamatan Kalasan, Prambanan, dan Palagan.

Subhan menyebut ketiga wilayah tersebut sering terjadi genangan air karena berada di wilayah dataran rendah. Genangan tersebut ditengarai menjadi penyebab rusaknya struktur aspal. “Memang, cuaca ekstrim ini banyak sekali infrastruktur yang rusak. Salah satunya pada jalan, khususnya yang ada di dataran rendah karena adanya genangan,” ujarnya. (inu/din)