RADAR JOGJA – Raja Keraton sekaligus Gubernur DIJ Sultan Hamengku Buwono (HB) X menyampaikan pesan dan imbauan kepada masyarakat Jogja dalam menyikapi pandemi Covid-19. Nasihat HB X disampaikan melalui sapa aruh atau sapaan raja kepada warganya berjudul “Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Korona”.

Sapa aruh digelar di Bangsal Kepatihan, Senin (23/3). HB X yang mengenakan kemeja batik lengan panjang membacakan pidato berisi pesan untuk warganya didampingi Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji dan Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X.

“Mestinya karena pribadi, (disampaikan) di Keraton Jogja. Tapi karena saya bekerja di sini (Kepatihan), ngontrol dari sini untuk masalah tanggap darurat. Mohon maaf saya lakukan dari tempat ini,”  ucapnya saat mengawali pidato.

Sultan HB X menjelaskan, berbeda dengan bencana gempa yang melanda DIJ pada 27 Mei 2006, wabah korona dikatakan sebagai bencana tak kasat mata. Tak bisa dirasakan dan menyerang secara tak terduga. Untuk itu ia mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan, perilaku, dan wajib menjalankan aturan baku dari sumber resmi yang terpecaya.

“Saya yakin, karena rakyat Jogja memiliki kadar literasi yang tinggi, tentu bisa membedakan mana yang berita hoaks serta mana-mana yang benar dan nalar. Pepatah Jawa kembali mengatakan gusti paring dalan kanggo uwong sing gelem ndalan (Tuhan melapangkan jalan orang-orang yang taat pada aturan, Red),” tandasnya.

Hingga saat ini, HB X belum memberlakukan kebijakan lockdown di daerahnya. Melainkan calmdown untuk menenangkan batin dan menguatkan kepercayaan diri. Calmdown juga harus dibarengi dengan perilaku dan sikap guna meredam penularan penyakit. “Sedapat mungkin memperlambat merebaknya pandemi penyakit korona dengan cara reresik diri dan lingkungannya sendiri-sendiri,” tuturnya.

Dia mengingatkan, apabila individu merasa kurang sehat harus memiliki kesadaran. Bila menjalin kontak dengan penderita, wajib mengisolasi diri selama 14 hari. Sama dengan masa inkubasi virus. Juga saling jaga antarmasyarakat dengan memberi jarak aman dan menjauhi keramaian bila tak mendesak. “Bisa jadi kita merasa sehat, tapi sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa kita benar-benar sehat. Malah bisa jadi kita yang membawa bibit penyakit,” ucapnya.

HB X menjelaskan, di masa tanggap darurat bencana virus korona ini, tiap orang harus menghadapinya dengan sikap sabar-tawakal, tulus-ikhlas, pasrah lahir-batin, disertai ikhtiar yang berkelanjutan. “Sama seperti juga bagi saya, yang berkewajiban menjadi pamong praja beserta pamomong rakyat Jogjakarta, harus berpegang teguh pada ajaran Jawa wong sabar rejekine jembar, ngalah urip luwih berkah (orang sabar rezekinya luas, mengalah hidup lebih berkah, Red),” terangnya. (tor/laz)