Radar Jogja – Pengelola dan karyawan sejumlah objek wisata (obwis) rintisan di Bantul menganggur. Belum ada kejelasan, mengenai solusi dan durasi macetnya pendapatan para pengelola. Ini menyusul istruksi Bupati Bantul Suharsono untuk melakukan penutupan obwis sebagai langkah pencegahan penularan virus korona, Jumat malam (20/3).

Menyikapi ini, para pengelola memanfaatkannya untuk melakukan pembersihan dan pembenahan obwis. Selain itu semua booking dibatalkan. “Ya, otomatis menganggur dan belum tahu bagaimana mereka selanjutnya,” ujar Manager Operasional Gerbang Banyu Langit Sugeng Riyanto kemarin (21/3).

Terdapat 20 orang karyawan yang mengantungkan penghasilan pada obwis yang dibuka sejak 21 April 2019 itu. Pelapak juga diutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mereka disarankan untuk berjualan di rumah. Sebelumnya telah dilakukan penyemprotan disinfektan di sekitar Gerbang Banyu Langit.

Bagi pengunjung yang telanjur datang, pengelola hanya menyediakan minuman gratis berupa wedang sereh jahe dan air minum kemasan. “Soalnya penutupan dilakukan mendadak, jadi masih ada yang datang,’’ katanya.

Obwis rintisan lainnya, Taman Puspa Gading, tetap buka. Namun obwis tersebut tampak sepi pengunjung. “Pengunjung berkurang drastis, tapi kami maklum,” kata Ketua Pokdarwis Dusun Tegaldowo Manunggal Sugiran.

Sebagian pelapak juga tampak tidak berjualan. Namun pengerjaan obwis yang dibuka sejak 5 Juni 2019 itu tetap berjalan. Pengelola di Taman Puspa Indah sebagian besar adalah ibu-ibu. Sehingga pengelola tidak 100 persen menggantungkan diri pada kunjungan wisatawan. (cr2/din)